Jumat, 05 September 2008

METODOLOGI PENGAJARAN BAHASA ARAB







MACAM-MACAM METODOLOGI PENGAJARAN BAHASA ARAB

1. Metode Ceramah
Yang dimaksud dengan metode ceramah yaitu cara menyampaikan suatu pelajaran tertentu dengan jalan penuturan secara lisan kepada anak didik atau khalayak ramai. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, dalam mengembangkan dan mendakwahkan agama Islam banyak menggunakan dengan acara berceramah ini. Hal ini tercermin dalam hadits beliau yang berbunyi sebagai berikut :


“Sampaikanlah olehmu walaupun hanya satu ayat”
Jadi cara penyampaian dakwah disini yaitu dengan cara berceramah secara lisan atau ucapan. Meskipun dakwah secara bil hal (dengan perbuatan) sangat diutamakan dalam Islam, namun ceramah tetap penting.
Ciri yang menonjol dalam metode ceramah, dalam pelaksanaan pengajaran di kelas, adalah peranan gutu tampak sangat dominan. Adapun murid mendengarkan dengan teliti dan mencatat isi ceramah yang disampaikan oleh guru di depan kelas.
Ceramah tepat digunakan :
Apabila guru ingin menyampaikan sejumlah fakta dan pendapat yang tidak tertulis dan tercatat dalam buku catatan atau naskah
Apabila bahan pelajaran yang akan disampaikan cukup banyak, sementara waktu yang tersedia sangat terbatas
Apabila guru seorang pembicara yang baik dan memikat serta penuh antusias
Apabila gutu akan merangkum pokok penting pelajaran yang telah dipelajari, sehingga diharapkan siswa memhami dan mengerti secara gamblang
Jika guru memperkenalkan pokok pelajaran yang baru, dan menghubungkannya terhadap pelajaran yang telah lalu (asosiasi)
Apabila jumlah siswa terlau banyak sehingga bahan pelajaran sulit disampaikan melalui metode lain[1]
Untuk bidang studi Agama, metode ceramah ini tepat digunakan misalnya : jika ingin menerangkan pelajaran mengenai pengertian “keimanan, akhlak” dan lain sebagainya.
Keuntungan Metode Ceramah
Bahan dapat disampaikan sebanyak mungkin dalam jangka waktu yang singkat
Guru dapat menguasai situasi kelas
Organisasi kelas lebih sederhana dan mudah dilaksanakan
Tidak terlalu banyak memakan biaya dan tenaga
Kelemahan Metode Ceramah
Ceramah hanya cenderung mempertimbangkan segi banyaknya bahan pelajaran yang akan dijadikan, dan kurang memperhatikan/mementingkan segi kualitas (mutu) penguasaan bahan pelajaran
Bila situasi kelas tidak dapat dikuasai oleh guru secara baik, maka proses pengajaran akan dapat menjadi tidak efektif. Bahkan dapat berkaitan lebih jauh (misalnya kacaunya situasi proses pengajaran)
Pada metode ceramah proses komunikasi banyak terpusat kepada guru. Dan siswa banyak berperan sebagai pendengar setia. Sehingga proses pengajaran sering dikritik sebagai sekolah dengar, murid terlalu pasirf.
Sulit mengukur sejauh mana penguasaan bahan pelajaran yang telah diberikan itu oleh anak didik
Apabila ceramah tidak mempertimbangkan segi psikologis dan diktatis, maka ceramah dapat bersifat melantur tanpa arah dan tujuan yang jelas.
Langkah-langkah persiapan ceramah :
Dibawah ini ada beberapa langkah-langkah persiapan metode ceramah, yang dapat mempertinggi bobot dan efektivitas ceramah yakni sebagai berikut :
Merumuskan tujuan khusus yang hendak dicapai
Materi ceramah hendaklah disusun secara sistematis
Sikap/penampilan dan gaya bahasa ceramah umumnya dapat meningkatkan dan mendorong serta merangsang perhatian anak didik
Tujuan ceramah untuk memperjelas pengertian siswa mengenai materi pelajaran yang telah disampaikan, maka alat bantu/alat peraga mesti ditetapkan sebelumnya
Usahakan menanamkan pengertian yang jelas. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan cara memberikan ikhtisar atau kesimpulan, dan mengenai catatan kecil mengenai bahan yang telah diberikan tersebut
Dalam perjalanan agama hendaklah pemakaian metode ceramah ini diselingi dengan metode-metode lain misalnya metodologi audio visual, demonstrasi, tanya jawab dan lain-lainnya
Metode ceramah semestinya hanya sebagai pendukung/pendamping metode-metode lain

2. Metode Diskusi atau Musyawarah
Dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya dalam hubungan interaksi edukatif sering dihadapkan kepada berbagai macam permasalahan, yang kadang-kadang tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu cara, akan tetapi memerlukan berbagai macam cara yang terbaik. Tentang sesuatu permasalahan yang sulit disimpulkan sendiri.
Metode diskusi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah, yang mungkin menyangkut kepentingan bersama, dengan jalan muswarah untuk mufakat. Memperluas pengetahuan dan cakrawala pemikiran.
Dengan kata laian metode diskusi yaitu cara bagaimana menyajikan bahan pelajaran melalui proses pemeriksaan dengan teliti suatu masalah tertentu dengan jalan bertukar pikiran, bantah membantah dan memeriksa dengan teliti berhubungan yang terdapat di dalamnya : dengan jalan menguraikan, membanding-bandingkan, menilai hubungan itu dan mengambil kesimpulan yang dapat ditarik daripadanya[2]. Bersama-sama melalui diskusi bisa ditemui 2, 3 atau lebih jawaban/kesimpulan, yang semuanya dapat diterima/benar
Adapun masalah-masalah yang baik untuk didiskusikan adalah meliputi sifat-sifat sebagai berikut :
Menarik minat siswa dan sesuai dengan taraf perkembangannya
Mempunyai kemungkinan jawaban lebih dari satu, yang masing-masing dapat dipertahankan kebenarannya
Bila pertanyaan dimaksudkan untuk mencari pertimbangan dan perbandingan daripadanya
Kebaikan dari metode diskusi
Suasana kelas lebih hidup dan dinamis
Mempertinggi pertisipasi siswa, untuk mengeluarkan pendapatnya baik secara individu maupun secara kelompok
Merangsang siswa untuk mencari jalan pemecahan masalah yang dihadapi bersama, dengan cara bermusyawarah dan urun rembuk bersama-sama
Melatih sikap dinamis dan kreatif dalam berpikir
Menumbuhkan sikap toleransi dalam berpendapat maupun bersikap
Hasil diskusi dapat disimpulkan dan mudah dipahami
Memperluas cakrawala dan wawasan berpikir peserta diskusi
Kelemahan-kelemahan metode diskusi
Kemungkinan siswa yang tidak ikut aktif dijadikan kesempatan untuk bermain-main dan mengganggu temannya yang lain
Apabila suasana kelas tidak dapat dikuasai, kemungkinan pengguna waktu menjadi tidak efektif, dan dapat berakibat tujuan pengajaran tidak tercapai
Sulit memprediksi arah penyelesaian diskusi. Hal ini terjadi jika proses jalannya diskusi hanya merupakan ajang perbedaan pendapat yang tidak ada ujung penyelesainnya
Siswa mengalami kesulitan untuk mengeluarkan pendapat secara sistematis. Terutama bagi siswa yang memiliki sifat pemalu dan rasa takut mengeluarkan pendapat
Kesulitan mencari tema diskusi yang aktual, yang hangat dan menarik untuk didiskusikan
Peranan guru atau pimpinan dalam diskusi
Guru atau pimpinan diskusi sebagai pengatur lalu lintas pembicaraan
Sebagai pimpinan diskusi, ia harus mampu mengatur jalannya diskusi, dan menstimulir para peserta diskusi untuk menyeluarkan pendapatnya
Sebagai pimpinan diskusi, ia memiliki hak untuk :
a. Mengajukan pertanyaan kepada anggota kelompok tertentu
b. Mengatur agar tidak semua anggota peserta diskusi berbicara serentak tanpa mengindahkan untuk mengambil bagian berbicara secara bergilir
c. Mencegah kemungkinan dikuasainya forum diskusi oleh orang-orang tertentu saja. Sehingga tidak adnaya pemerataan berbicara
d. Memberikan kesempatan kepada siswa yang tidak aktif berbicara, karena malu, atau pendiam agar dapat menyumbangkan buah pikirannya
Guru atau pimpinan diskusi berperan sebagai dinding penangkis
Sebagai pimpinan diskusi, ia selalu menerima pertanyaan-pertanyaan dari peserta diskusi, kemudian pimpinan diskusi mengembalikannya lagi kepada peserta diskusi untuk dipecahkan bersama-sama. Dan menjaga arah diskusi jangan sampai terjadi terjadi debat kusir antara pimpinan dengan peserta diskusi, dan antara diskusi dengan yang lain sesamanya. Akan tetapi perdebatan terjadi dalam batas-batas yang wajar dan argumentatif rasional
Pimpinan diskusi sebagai penunjuk jalan
Sebagai penunjuk jalan pimpinan diskusi dapat memberikan penerangan dan penjelasan, serta meluruskan obyek pembicaraan, bila ada tanda-tanda pembicaraan menyimpang dari tema diskusi semula
Teknik-teknik mengajukan pertanyaan dalam diskusi
Mula-mula diajukan kepada semua siswa, baru kediamuan ditujukan kepada siswa tertentu
Beri waktu siswa untuk berpikir dan menyusun jawabannya
Pertanyaan tidak diajukan berdasarkan urutan absen arau deretan bangku. Tetapi kepada semua siswa, yang telah siap untuk menjawab bahan diskusi
Tujuan metode diskusi
Melalui metode diskusi, tujuan pengajaran selain untuk mencari dan menemukan jawaban yang benar dan setepat-tepatnya juga dimaksudkan untuk :
Dapat menemukan cara baru yang ditempuh dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama
Mengumpulkan fakta dan pendapat-pendapat dari para peserta atau pihak yang dimintai keterangan
Merumuskan hasil diskusi dan kemungkinan tindak lanjut yang dapat direalisasikan
Fungsi diskusi :
Mendorong siswa untuk berpikir dan mengeluarkan pendapatnya dengan dasar argumentasi yang kuat dan akurat
Mengembangkan daya imajinasi dan intuitif serta daya pikir yang kritis
Disamping itu diskusi dapat berfungsi sebagai bahan masukan yang sangat berharga bagi seorang guru atau pimpinan sekolah
Dalam pelajaran agama Islam metode diskusi ini daoat diterapkan dalam mengajarkan pelajaran fikih dan pelajaran sejarah Islam. Dalam pelajaran fikih misalnya kita dapat memilih tema misalnya mengenai : Bagaimana bayi tabung, donor darah / dan donor mata, operasi jantung dan donor ginjal menurut Islam. Dan bagaimana asuransi, Bank, Koperasi dan lain-lainnya menurut Islam. Demikian pula dalam pelajaran sejarah, kita dapat memilih tema, misalnya : bagaimana peranan umat Islam dalam merebut kemerdekaan, dalam menumpas penjajah dan komunis/PKI di masa pra kemerdekaan. Dan dapat pula mendiskusikan peran umat Islam secara global/internasional. Pendek kata tema diskusi harus juga disesuaikan dengan taraf kemampuan dan perkembangan anak didik. Pada kelas-kelas yang masih rendah diskusi dapat dilakukan dengan yang ringan-ringan, sedangkan pada kelas-kelas yang maju/tingkat tinggi, diskusi dapat bersifat abstrak dan problematik pemikiran.
Dalam Al-Qur’an Allah mengajurkan kepada kita untuk berdiskusi dan bermusyawarah secara baik dalam menghadapi berbagai masalah yang dihadapi bersama, yang berbunyi :







Maka disebabkan rahmat dari Allah0lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras, lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakanlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang bertawaqal kepada-Nya (Q.S Ali Imran:159).
Dalam ayat lain juga Allah menegaskan kepada orang yang mengakui dirinya beriman, mendirikan salat serta bagi mereka karenanya mampu mengeluarkan/ menafkahkan sebagian dari hartanya, untuk selalu bermusyawarah dalam urusan mereka. Dengan firmannya yang berbunyi :



Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka dan mereka menafkahkan bagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka (Q.S Asy-Syura (Musyawarah) : 38).

3. Metode Demontrasi dan Eksperimen
Yang dimaksud dengan metode demonstrasi adalah : metode mengajar dengan menggunakan alat peragaan (meragakan), untuk memperjelas suatu pengertian, atau untuk memperlihatkan bagaimana untuk melakukan dan jalannya suatu proses pembuatan tertentu kepada siswa. To Show atau memperkenalkan/ mempertontonkan.
Kalau demonstrasi titik tekanannya terletak pada memperagakan, bagaimana jalannya proses tertentu. Maka pada eskperimen adalah melakukan percobaan/ praktek langsuang atau dengan cara meneliti dan mengamati secara seksama. Dalam pelaksanaan kedua metode ini dapat dipakai bersama-sama/bergantian.
Metode demonstrasi dalam pelaksanaannya antara lain dapat digunakan dalam menyampaikan bahan pelajaran fiqih, misalnya bagaimana berwudlu’ yang benar, bagaimana cara mengerjakan salat yang benar, baik itu shalat wajib lima waktu sehari semalam maupun salat sunat seperti salah jenazah, salat sunat istiqarah, tahajjud, istisqa dan lain-lain sebagainya. Sebab kata demontrasi terambil dari Demonstrastion = to show (memperagakan/memperlihatkan) proses kelangsungan sesuatu.
Sedangkan pada metode eksperimen, dapat menjelaskan misalnya, untuk menentukan/meneliti kadar tanah atau debu yang dapat dijasikan “Tayamum” sebagai pengganti air juga dapat meneliti makanan dan minuman yang mungkin memiliki unsur dan kadar minyak babi, tentunya hal ini dapat melihat/meneliti label surkning makanan seperti : roti kaleng, susu dan makanan-makanan yang lain yang banyak mengandung protein nabati atau hewani. Demikian juga halnya dengan minuman-minuman keras yang mengandung alkohol, yang justru dapat membahayakan bagi kesehatan dan kecerdasan otak manusia itu sendiri. Dan terlarang menurut syariat dan ajaran agama Islam. Dan hal ini yang sama dapat pula mendemonstrasikan bagaimana mencoba praktik mengajar di depan kelas bagi calon-calon guru, praktek ibadah pada metode demonstrasi. Dan lain sebagainya. Eksperimen misalnya : mencoba hafalan ayat-ayat Al-Qur’an, mencoba menuliskan yang benar dan sebagainya. Metode demontrasi dan eksperimen tepat digunakan apabila :
Dimaksudkan untuk memberikan keterangan dan keterampilan tertentu kepada anak didik
Untuk memudahkan penjelasan, hingga mudah dipahami, sebab penggunaan bahasa dalam pengajaran memiliki sifat keterbatasan
Untuk menghindari verbalisme dalam pengajaran
Untuk meneliti sejumlah fakta dan obyek tertentu secara seksama
Kebaikan metode demonstrasi
Perhatian siswa dapat difokuskan kepada titik berat yang dianggap penting bagi guru
Dengan keterlibatan siswa secara aktif terhadap jalannya suatu proses tertentu melalui pengamatan dan percobaan, siswa mendapatkan pengalaman praktis, yang biayanya bersifat tahan lama
Menghindarkan pengajaran yang bersifat verbalisme, di mana siswa tidak bisa memahami dan mengerti apa yang diucapkan (pandai mengucapkan tapi tidak mengerti maksudnya), tau bisa membaca Al-Qur’an tetapi tak bisa menulis dengan benar. Guru agama tidak boleh salah-salah menulis ayat Al-Qur’an atau hadits. Karena itu banyak dicoba (anak-anak dieskperimen) oleh guru
Dapat mengurangi kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca buku, karena siswa telah memperoleh gambaran yang jelas dari hasil pengamatan langsung
Beberapa masalah yang menimbulkan pertanyaan pada diri siswa dapat dijawab di waktu mengamati demonstrasi
Kekurangan metode demonstrasi
Dalam pelaksanaannya demonstrasi memerlukan waktu dan persiapan yang matang, sehingga dapat menyita waktu yang cukup banyak
Demonstrasi dalam pelaksanaannya banyak menyita biaya dan tenaga yang tidak sedikit (jika memakai alat-alat yang mahal)
Tidak semua hal yang dapat didemonstrasikan di dalam kelas. Hal ini dapat terjadi misalnya bila alat-alat peraga demonstrasi sangat besar/berat, atau berada di tempat jauh. Dalam bidang agama masalah Tauhid atau keimanan misalnya sulit diterapkan melalui metode ini. Sebab masalah keimanan bersifat abstrak, dan tidak dapat divisualisasikan
Demosntrasi akan menjadi tidak efektif siswa tidak turut akatif dan suasana gaduh
Cara merencanakan demonstrasi yang efektif :
Merumuskan tujuan yang jelas dari sudut kecakapan atau kegiatan yang hendak dicapai
Menetapkan garis besar langkah-langkah demosntrasi yang akan dilaksanakan (bila diperlukan adakanlah terlebih dahulu uji coba, sebelum didemosntrasikan di depan kelas)
Memperhitungkan waktu yang akan diperlukan, termasuk waktu siswa untuk bertanya, memberi komentar, kesimpulan serta catatan yang diperlukan
Selama demonstrasi berlangsung kita dapat mengajukan pertanyaan, apakah keterangan itu dapat didengar oleh siswa dan apakah alat sudah ditempatkan pada posisi yang tepat? Dan lain sebagainya
Menetapkan rencana penelitian, mengenai hasil yang dicapai melalui demonstrasi
Dapat merekam kembali/mengulangi kembali proses demosntrasi, jiak siswa merasa belum paham/mengerti tentang masalah yang dibicarakan
Keunggulan-keunggulan Metode Eksperimen :
Melalui eksperimen siswa dapat menghayati sepenuh hati dan mendalam, mengenai pelajaran yang diberikan
Siswa dapat aktif mengambil bagian untuk berbuat bagi dirinya, dan tidak hanya melihat orang lain, tanpa dirinya melakukan
Siswa dapat aktif mengambil bagian yang besar, untuk melaksanakan langkah-langkah dalam cara berpikir ilmiah. Jal ini dilakukan melalui pengumpulan data-data observasi memberikan penafsiran serta kesimpukan, yang dilakukan oleh siswa itu sendiri
Kemungkinan kesalahan dalam mengambil kesimpulan dapat dikurangi, karena siswa mengamati langsuang terhadap suatu proses yang menjadi obyek pelajaran atau mencoba melaksanakan sesuatu
Siswa mendapatkan pengalaman langsung dan praktis dalam kenyataan sehari-hari yang sangat berguna bagi dirinya
Kelemahan-kelemahan metode eksperimen
Apabila sarana tidak tersedia atau kurangmemadai, maka proses jalannya eksperimen akan menjadi tidak efektif
Metode ini dilaksanakan bila siswa belum matang untuk melaksanakan eksperimen. Hal ini berarti melaksanakan eksperimen memerlukan ketrampilan yang mahir dari pihak gurunya
Memerlukan waktu yang panjang/lama. Keterbatasan waktu dalam eksperimen dapat berakibat terputusnya pemahaman siswa, terhadap topik yang menjadi pokok bahasan. Dan ini bertujuan pengajaran tidak tercapai dengan baik
Memerlukan keterampilan/kemahiran dari pihak guru dalam menggunakan serta membuat alat-alat eksperimen
Bagi guru yang telah terbiasa dengan metode ceramah secara rutin misalnya. Cenderung memadang metode eksperimen sebagai suatu pemborosan dan memberatkan
Saran-saran dalam melaksanakan eksperimen
Agar eksperimen dapat berjalan dengan baik dan tujuan dapat tercapai secara baik pula, maka perlu diperhatikan saran-saran berikut ini antara lain :
Perlu menjelaskan tujuan yang akan dicapai melalui eksperimen kepada siswa
Menjelaskan prosedur/langkah-langkah yang akan ditempuh dalam eksperimen serta persiapan alat-alat eksperimen
Membantu siswa untuk mendapatkan bahan-bahan bacaan serta alat-alat yang akan diperlukan dalam eksperimen
Setelah eksperimen dilakukan berilah kesempatan kepada siswa untuk mengevaluasi hasil kerjanya dengan membandingkan hasil eksperimen temannya dengan membandingan hasil eksperiman temannya sehingga dapat memberikan peluang untuk saling tukar pendapat dan saling lengkapi-melengkapi kekurangan yang dimilikinya
Memberikan kesimpulan dan catatan seperlunya terhadap eksperimen yang baru saja dilakukan
Diharapkan siswa dapat memberikan ikhtisar berupa laporan mengenai hasil eksperimen mereka
Metode kesperimen dan demonstrasi ini sebetulnya telah mempunyai akar tradisi dalam sejarah Islam. Sebagaimana halnya Nabi Muhammad SAW bersabda : “Salatlah kamu sebagaimana akumelakukan salat”. Jadi Rasulullah sendiri telah melakukan demonstrasi, cara salat yang benar untuk diikuti oleh umatnya.
Demikian pula di dalam metode eksperimen para ulama ahli hadits. Misalnya ulama Imam al-Bukhari dan Imam Muslim telah melakukan perjalanan yang panjang mengembara ke suatu kota yang jauh letaknya sekedar untuk mengetahui dan meneliti kebenaran suatu hadits Nabi. Dengan cara meneliti sanad dan rawi hadits tertentu dan akhirnya dapat disimpulkan shahih tidaknya suatu hadits tersebut. Sehingga dikenal hadits shahih Bukhari dan shahih Muslim. Ini berarti metode demosntrasi dan eksperimen memiliki landasan kuat dalam sistem pengajaran Islam.

4. Metode Sosiodrama dan Bermain Peranan (Role Playing Method)
Istilah sosiodrama dan bermain peranan (role playing) dalam metode merupakan dua istilah yang kembar, bahkan di dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dalam waktu bersamaan dan silih berganti
Sosiodrama dimaksudkan adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial
Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi
Kedua istilah ini (sosiodrama dan bermain peranan), kadang-kadang juga disebut metode dramatisasi. Hanya bedanyakedua metode tersebut tidak disiapkan terlebih dahulu naskahnya.
Dalam pendidikan agama metode sosiodrama dan bermain peranan ini efektif dalam menyajikan pelajaran akhlak, sejarah Islam dan topik-topik lainnya. Dalam pelajaran sejarah, misalnya guru ingin menggambarkan kisah sahabat khalifah Abu Bakar, ketika beliau masuk Islam. Kisah tersebut tentu amat menarik jika disajikan melalui metode sosiodrma dan bermain peranan. Sebab siswa disamping mengetahui proses jalannya khalifah Abu Bakar masuk Islam, juga dapat menghayati ajaran dan hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut.
Demikian pula halnya pada pelajaran akhlak. Misalnya bagaimana sosok akhlaqul karimah (seorang yang berakhlak mulia) dan anak yang saleh ketika berhadapan dengan orang tuanya maupun anak durhaka kepada orang tuanya, misalnya sebagaimana cerita “Si Malin Kundang” yang tersohor itu. Dan lain-lainnya yang bersifat sosiodrama, dan bermain peranan
Peranan sosiodrama dapat digunakan apabila :
Pelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang
Pelajaran dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial dan rasa tanggung jawab dalam memikul amanah yang telah dipercayakan
Jika mengharapkan partisipasi kolektif dalam mengambil suatu keputusan
Apabila dimaksudkan untuk mendapatkan ketrampilan tertentu sehingga diharapkan siswa mendapatkan bekal pengalaman yang berharga, setelah mereka terjun dalam masyarakat kelak
Dapat menghilangkan malu, dimana bagi siswa yang tadinya mempunyai sifat malu dan takut dalam berhadapan dengan sesamanya dan masyarakat dapat berangsur-angsur hilang, menjadi terbiasa dan terbuka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya
Untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga amat berguna bagi kehidupannya dan masa depannya kelak, terutama yag berbakat bermain drama, lakon film dan sebagainya.
Langkah-langkah yang ditempuh
Bila sosiodrama baru ditetapkan dalam pengajaran, maka hendaknya guru menerangkannya terlebih dahulu teknik pelaksanaanya, dan menentukan diantara siswa yang tepat untuk memerankan lakon tertentu, secara sederhana dimainkan di depan kelas
Menerapkan siatuasi dan masalah yang akan dimainkan dan perlu juga diceritakan jalannya peristiwa dan latar belakang cerita yang akan dipentaskan tersebut
Pengaturan adegan dan kesiapan mental dapat dilakukan sedemikian rupa
Setelah sosiodrama itu dalam peuncak klimas, maka guru dapat menghentikan jalannya drama. Hal ini dimaksudkan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat diselesaikan secara umum, sehingga penonton ada kesempatan untuk berpendapat dan menilai sosiodrama yang dimainkan. Sosiodrama dapat pula dihentikan bila menemui jalan buntu
Guru dan siswa dapat memberikan komentar, kesimpulan atau berupa catatan jalannya sosiodrama untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya
Kebaikan Metode Sosiodrama Bermain Peranan
Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling untuk dilupakan
Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias
Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi
Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dand apat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri
Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa, dan dapat menumbuhkan / membuka kesempatan bagi lapangan kerja
Kelemahan-kelemahannya
Sebagaimana dengan metode-metode yang lain, metode sosiodrama dan bermain peranan memiliki sisi-sisi kelemahan. Namun yang penting disini, kelemahan dalam suatu metode tertentu dapat ditutupi dengan memakai metode yang lain.
Mungkin sekali kita perlu memakai metode diskusi, ausid visual, tanya jawab dan metode-metode lain yang dapat dianggap melengkapi metode sosiodrama/bermain peranan
Kelemahan metode sosiodrama dan bermain peranan ini terletak pada :
1. Sosiodrama dan bermain peranan memelrukan waktu yang relatif panjang/banyak
2. Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid. Dan ini tidak semua guru memilikinya
3. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan tertentu
4. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai
5. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini
6. Pada pelajaran agama masalah keimanan, sulit disajikan melalui metode sosiodrama dan bermain peranan ini.
Saran-saran yang perlu pendapat perhatian dalam pelaksanaan metode ini
Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan melalui metode ini. Dan tujuan tersebut diupayakan tidak terlalu sulit/berbelit-belit, akan tetapi jelas dan mudah dilaksanakan
Melatar belakang cerita sosiodrama dan bermain peranan tersbeut. Misalnya bagaimana guru dapat menjelaskan latar belakang kehidupan sahabat Aku Bakar sebelum menceritakan kisah sahabat Abu Bakar masuk Islam. Hal ini agar materi pelajaran dapat dipahami secara gamblang dan mendalam oleh siswa/anak didik
Guru menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan sosiodrama dan bermain peranan melalui peranan yang harus siswa lakukan/mainkan
Menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang pantas memainkan/melakonkan jalannya suatu cerita. Dalam hal ini termasuk peranan penonton
Guru dapat menghentikan jalannya permainan apabila telah sampai titik klimaks. Hal ini dimaksudkan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat didiskusikan secara seksama
Sebaiknya diadakan latihan-latihan secara matang, kemudian diadakan uji coba terlebih dahulu, sebelum sosiodrama dipentaskan dalam bentuk yang sebenarnya.

5. Metode Kerja Kelompok
Istilah kerja kelompok mengandung arti : siswa-siswi dalam suatu kelas dibagi dalam ke dalam beberapa kelompok, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Pengelompokkan itu biasanya didasarkan atas prinsip mencapai tujuan bersama. Dan oleh karena itu kerja kelompok berarti bekerja bersama-sama secara bergotong royong untuk mencapai tujuan yang menjadi cita-cita bersama pula.
Dengan kata lain metode kerja kelompok yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran dimana guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok atau group tertentu untuk menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan, dengan cara bersama-sama dan bertolong-tolongan
Cara pengelompokkan disini dapat pula dilakukan oleh siswa itu sendiri, dengan maksud agar siswa dapat menetapkan mana di antara teman yang dapat diajak untuk bekerja sama dalam kelompoknya. Namun pengelompokkan dapat juga dilakukan dengan cara bimbingan guru bersangkutan dengan didasari atas pertimbangan didaktis dan psikologis.
DalamAl-Qur’an banyak ayat yang menunjukkan pentingnya kerja kelompok ini menjadi prinsip dalam pendidikan Islam : Sebagaimana firman Allah yang berbunyi :


Bertolong-tolonglah untuk kebaikan dan takwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan tentang dosa dan pemusuhan
Langkah-langkah pengelompokkan yang perlu diperhatikan
Tidak mengabaikan asas individualitas, dimana masing-masing siswa dalam kelompoknya dapat dipandang sebagai pribadi yang berada dari segi kemampuan dan minatnya masing-masing. Dan oleh karena itu siswa dapat dilayani sesuai dengan karakteristik mereka masing-masing
Jika dimaksudkan untuk memperolehdan memperbesar peran atau partisipasi dari masing-masing siswa dalam kelompoknya
Mempertimbangkan fasilitas yang tersedia/dimiliki
Pembagian jenis kerja dan tujuan khusus yang hendak dicapai
Segi-segi kebaikan metode kerja kelompok :
Menumbuhkan rasa kebersamaan dan toleransi dalam sikap dan perbuatan
Menumbuhkan rasa ingin maju dan mendorong anggota kelompok untuk tampil sebagai kelompok yang terbaik sehingga dengan demikian terjadilah persaingan yang sehat, untuk berlomba-lomba mencari kemajuan dan prestasi dalam kelompoknya
Kemungkinan terjadi adanya transfer pengetahuan antar sesama dalam kelompok yang masing-masing dapat saling isi mengisi dan melengkapi kekurangan dan kelebihan antar mereka
Timbul rasa kesetiakawanan sosial antar kelompok/group yangb dilandasi motivasi kerja sama untuk kepentingan dan kebaikan bersama
Dapat meringankan tugas guru atau pemimpin sekolah
Kekurangan metode kerja kelompok :
Melalui metode kerja kelompok, memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang
Persaingan yang tidak sehat akan terjadi manakala guru tidak dapat memberikan pengertian kepada siswa. Bahkan pembagian tugas yang dilakukan bukanlah dimaksudkan membeda-bedakan satu dengan yang lainnya dalam arti yang luas
Bagi siswa yang tidak memiliki disiplin diri dan pemalas terbuka kemungkinan untuk pasif dalam kelompoknya, dan hal ini berpengaruh kepada aktivitas kelompok secara kolektif
Sifat dan kemampuan individualitas kadang-kadang terasa diabaikan
Jika tugas yang diberikan kepada kelompok masing-masing kemudian tidak diberikan batas-batas waktu tertentu, maka cenderung tugas tersebut diabaikan /terlupakan
Tugas juga dapat terbengkalai manakala tidak mempertimbangkan segi psikologis dan didaktis anak didik
Saran-saran pelaksanaan metode kerja kelompok
Usahakan jumlah anggota dari masing-masing kelompok tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil/sedikit. Biasanya jumlah anggota kelompok berkisar antara 4 (empat) sampai 6 (enam) orang, sebaiknya 5 (lima) orang
Pembentukan dan pembagian kelompok hendaknya mempertimbangkan segi minat dan kemampuan siswa
Guru hendaknya menjelaskan pelaksanaan dan manfaat dari tugas kerja kelompok
Masing-masing siswa dalam kelompoknya harus bertanggung jawab dan bekerja bersama-sama untuk kemajuan kelompoknya
Dalam pelajaran agama, metode kerja kelompok ini dapat diterapkan. Misalnya pada pekerjaan menerjemahkan buku-buku agama yang mungkin literatur berbahasa Arab dan Inggris. Dan membahas/meresume bahan-bahan pelajaran pada bab-bab tertentu dan lain sebagainya.
Dengan melalui kerja kelompok tersebut siswa merasa tergugah untuk mendalami ajaran agama Islam yang begitu luas ini.

6. Metode Tanya Jawab
Dimaksudkan metode tanya jawab yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran dengan jalan guru mengajukan suatu pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk dijawab, bisa pula diatur pertanyaan-pertanyaan diajukan siswa lalu dijawab oleh siswa lainnya.
Antarametode tanya jawab dengan metode diskusi memiliki segi-segi perbedaan. Kalau pada metode tanya jawab, guru pada umumnya menanyakan kepada siswa apakah mereka telah mengerti dan memahami pelajaran yang diberikan dan bagaimana proses pemikiran yang dipakai oleh siswa. Maka dalam metode diskusi, pertanyaan guru lebih dititikberatkan untuk merangsang siswa berpikir abstrak dan kompleks serta jawaban atas pertanyaan tersebut diharapkan tidak bersifat tunggal atau mutlak adanya, akan tetapi dapat mengandung alternatif dan penafsiran yang berbeda-beda.
Metode tanya jawab tepat digunakan apabila :
Untuk merangsang siswa agar perhatinnya terpusat kepada masalah/materi pelajaran yang sednag dibicarakan
Sebagai pre test terhadap pelajaran yang telah diberikan
Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerja sama dari siswa
Memimpin pengamatan dan pikiran siswa agar terarah
Untuk menguatkan pengamatan dan pengetahuan siswa yang telah dimilikinya
Metode tanya jawab kurang tepat digunakan apabila
Menilai kemajuan siswa
Memberi jawaban dari siswa, namun membatasi kemungkinan jawaban yang berbeda
Memberi giliran pertanyaan berdasarkan urutan bangku atau absen siswa
Pertanyaan hanya ditujukan kepada orang/siswa tertentu saja
Keunggulan metode tanya jawab
Situasi kelas menjadi hidup/dinamis, karena siswa aktif berpikir dan memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan
Melatih siswa agarberani mengemukakan pendapat secara argumentatif dan bertanggung jawab
Mengetahui perbedaan pendapat antar siswa dan guru yang dapat membawa ke arah diskusi yang positif
Membangkitkan semangat belajar dan daya saing yang sehat diantara siswa
Dapat mengukur batas kemampuan dan penguasaan siswa terhadap pelajaran yang telah diberikan
Kelemahan metode tanya jawab
1. Bila terjadi perbedaan pendapat, akan banyak menyita waktu untuk menyelesaikannya. Bahkan perbedaan pendapat antar guru dan siswa dapat menjurus kepada negatif, dimana siswa menyalahkan guru, dan ini besar risikonya
2. Tanya jawab dapat menimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan/materi pelaharan, hal ini terjadi jika guru tidak dapat mengendalikan jawaban atas segala pertanyaan siswanya
3. Tidak cepat merangkum bahan pelajaran
4. Tanya jawab akan dapat membosankan jika yang ditanyakan tidak ada variasi
Teknik mengajukan pertanyaan
Agar metode tanya jawab dalam pelaksanaannya dapat berjalan secara efektif, maka teknik mengajukan pertanyaan perlu diperhatikan hal-hal berikut :
Mula-mula pertanyaan ditujukan kepada semua siswa baru kemudian diajukan kepada siswa tertentu yang dapat menguasi
Beri siswa untukberpikir menjawab pertanyaan
Pertanyaan hendaklah singkat/padat dan tidak berbelit-belit
Guru tidak menjadi hakim atas pertanyaan yang diajukannya, namun memberikan kemungkinan bagi siswa untuk memberikan jawaban yang benar dan memuaskan
Saran-saran pelaksanaan metode tanya jawab
Merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan secaramatang dan terencana
Pertanyaan yang diajukan singkat/padat dan dapat merangsang berpikir siswa
Pertanyaan disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan siswa
Pertanyaan memiliki jawaban yang pasti
Jawaban dari siswa dapat disempurnakan jika kurang tepat dan mengenai sasaran
Dalam pendidikan agama, metode tanya jawab dapat diterapkan dalam menyajikan bahan pelajaran : Fikih dan dalam pelajaran akhlak serta pokok-pokok bahasan lainnya yang mengandung nilai tanya jawab. Misalnya pelajaran sejarah Islam.
Pada pelajaran fiqih misalnya pokok bahasan mengenai fiqh menukahat, jinayat, mawaris, puasa, haji dan lain-lainnya. demikian juga dalam pelajaran akhlak dan sejarah Islam.
Dalam sejarah Islam metode tanya jawab ini pernah diterapkan oleh rasulullah SAW ketika beliau mengutus sahabat Mu’az bin Jabal untuk menjadi hakim di negeri Yaman. Rasulullah bertanya kepada Mu’az melalui sabdanya yang berbunyi :






“Bagaimana (Mu’az), engkau memutuskan, apabila datang kepadamu suatu perkara? Mu’az menjawab : aku putuskan berdasarkan Kitabullah. Jiika aku tidak ketemukan hukumnya dalam Kitabullah maka berdasarkan Sunnah Rasulullah, maka kuberijtihat dengan pendapatku, dan aku tidak akan mengabaikan (perkaraitu). Lalu Rasulullah mengusap-usap pundak Mu’az seraya bersabda : Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah kepada sesuatu yang diridhai oleh Rasulullah” (H.R Ahmad Abu Daud).

7. Metode Latihan Siap (Drill)
Metode latihan siap (drill) pengertiannya sering dikacaukab dengan istilah “ulangan”. Padahal maksud keduanya berbeda
Latihan siap dimaksudkan yaitu agar pengetahuan siswa dan kecakapan tertentu dapat menjadi miliknya, dan betul-betul dikuasai siswa. Dengan kata lain metode latihan siap (drill) adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan/cara melatih siswa agar menguasai pelajaran dan terampil dalam melaksanakan tugas latihan yang diberikan
Sedangkan ulangan hanyalah untuk salah satu alat untuk, mengukur sejauh mana siswa telah menguasai dan menyerap pelajaran yang telah diberikan. Latihan-latihan perlu untuk ketrampilan, kemahiran dan spontanitas penguasaan hasil belajar.
Dalam pelajaran agama, metode latihan siapa dapat dilakukan misalnya : untuk melatih siswa agar terampil dalam membaca al-Qur’an, latihan ibadah salat, latihan berpuasa bulan Ramadhan, dan berbagai topik lainnya, misalnya latihan menulis kaligrafi (tulisan khat/Arab), latihan-latihan menulis ayat, bahasa Arab dan sebagainya.
Pada latihan siap (drill) untuk melaksanakan ibadah salat dalam Islam sangat ditekankan pada anak didik sedini mungkin agar dengan latihan-latihan yang dilakukan pada anak didik tidak merasa canggung setelah merasa dewasa.dan Islam memberi sangsi bagi mereka yang tidak melaksanakan setelah sampai usia baligh/dewasa. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW berbunyi :



“Perhatikanlah anak-anakmu sala ketika berumur tujuh tahun, pukullah mereka karena meningglkan salat pada waktu mereka berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka dari tempat tidurmu”
Jadi Islam sangat mementingkan cara latihan siap ini dalam sistem pendidikan Islam.
Dalam pelaksanaannya metode latihan siap ini, tentunya sebelumnya siswa telah dibekali dengan pengetahuan secara teori secukupnya, kemudian siswa disuruh mempraktekkannya atas bimbingan guru sehingga menjadi mahir dan terampil
Kebaikan metode latihan siap (drill)
Dalam waktu yang tidak lama siswa dapat memperoleh pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan
Siswa memperoleh pengetahuan praktis dan siap pakai, mahir dan lancar
Menumbuhkan kebiasaan belajar secara kontinyu dan disiplin diri, melatih diri, belajar mandiri
Pada pelajarana gama dengan melalui metode latihan siap ini anak didik menjadi terbiasa dan menumbuhkan semangat untuk beramal kepada Allah
Kekurangan metode latihan siap terletak pada :
Dapat menjadi pembakat dan inisiatif siswa sebab melalui cara/metode ini, ini berarti para siswa dibawah kepada konformitas dan diarahkan kepada uniformitas
Siswa dapat statis dalam penyesuaian dengan situasi lingkungan yang terpaku dalam petunjuk-petunjuk praktis tertentu, serta insiatif siswa untuk mengembangkan sesuatu yang baru menjadi terikat. Hal ini berarti bertentangan dengan prinsip-prinsip teori belajar
Membentuk kebiasaan yang kaku yang bersifat mekanis dan rutinitas. Kurang memperhatikan aspek intelektual anak didik
Pengajaran cenderung bersifat verbalisme
Dalam pelaksanaanya metode ini memakan waktu/proses yang cukup banyak/ lama
Dalam pelajaran agama memerlukan ketelatenan/ketekunan serta kesabaran dari pihak guru maupun dari siswa sendiri
Prinsip-prinsip latihan siap (drill), yaitu
Berikut ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan metode latihan siap (drill) :
Waktu yang digunakan dalam latihan siap (drill) cukup tersedia
Latihan siap (drill) hendaklah disesuaikan dengan taraf kemampuan dan perkembangan siswa anak didik
Latihan siap (drill) memiliki daya tarik dan merangsang siswa untukbelajar dan berlatih secara sungguh-sungguh
Dalam latihan tersebut pertama diutamakan ketepatan kemudian kecepatan, akhirnya kedua-duanya
Pada waktu latihan harus diutamakan yang esensial
Latihan dapat memenuhi perbedaan kemampuan dan kecakapan individu siswa
Dapat menyelingi latihan, sehingga tidak membosankan
Diperlukan kesabaran dan ketelatena dari pihak guru, terutama materi pembelajaran agama

8. Metode Pemberian Tugas (Resitasi)
Pemberian tugas atau resitasi; berasal dari bahasa Inggris to cite yang artinya mengutip (re=kembali), yaitu siswa mengutip atau mengambil sendiri bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, lalu belajar sendiri dan berlatih hingga sampai siap sebagaimana mestinya. Metode ini populer dengan bentuk PR (Pekerjaan Rumah). Sebetulnya bukan hanya itu/bukan hanya di rumah
Dengan kata lain metode resitasi dimaksudkan; yaitu guru menyajikan bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas kepada siswa, untuk dikerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesadaran. Dalam pelaksanaannya metode resitasi bukan saja hanya dilakukan oleh siswa dirumah, akan tetapi pemberian tugas (resitasi) dapat dikerjakan/dilaksanakan di sekolah/halaman sekolah, perpustakaan, laoratorium, di masjid, di langgar/mushalla dan lain tempat. Tergantung jenis tugas yang diberikan. Setiap tugas-tugas murid harus diberi nilai/dikoreksi, dan dicatat perkembangan prestasi murid-murid.
Dalam pendidikan agama, melalui metode pemberian tugas ini dapat diterapkan terutama materi pelajaran yang bersifat praktis. Misalnya memberikan tugas menerjemahkan literatur-literatur yang berbahasa asing (Arab, Inggris), membuat paper, kliping, resume dan lain-lain yang ada hubungannya dengan pelajaran agama.
Langkah-langkah pemberian tugas (resitasi) yang perli diperhatikan :
Merumuskan tujuan secara operasinal/spesifik mengenai target yang akan dicapai
Memperkirakan apakah tujuan yang telah dirumuskan itu dapat dicapai dalam batas-batas waktu, tenaga serta sarana yang tersedia
Dapat mendorong siswa secara aktif dan kreatif untuk mempelajari dan mempraktekan pelajaran yang telah diberikan
Agar siswa mempunyai pengetahuan yang integral/terpadu
Kebaikan metode pemberian tugas (resitasi)
Hasil pelajaran lebih tahan lama dan membekas dalam ingatan siswa
Siswa belajar dan mengembangkan inisiatif dan sikap mandiri
Memberikan kebiasaan untuk disiplin dan giat belajar
Dapat mempraktekkan hasil teori/konsep dalam kehidupan yang nyata/ masyarakat
Dapat memperdalam pengetahuan siswa dalam spesialisasi tertentu
Kekurangan metode pemberian tugas (resitasi) :
Siswa dapat melakukan penipuan terhadap tugas yang diberikan hanya dikerjakan oleh orang lain, atau menjiplak karya orang lain
Bila tugas diberikan terlalu banyak diberikan, siswa dapat mengalami kejenuhan/kesukaran, dan hal ini dapat berakibat ketenangan batin siswa merasa terganggu
Sukar memberikan tugas yang dapat memenuhi sifat perbedaan individuy dan minat dari masing-masing siswa
Pemberian tugas cenderung memakan waktu dan tenaga serta biaya yang cukup berarti
Saran-saran pelaksanaannya :
Oleh karena metode pemberian tugas (resitasi) ini tidak lepas dari kekurangan dan kelemahannya, maka kiranya perlu guru memperhatikan saran-saran pelaksanaannya sebagai berikut :
Merencanakan resitasi secara matang
Tugas yang diberikan hendaklah didasarkan atas minat dan kemampuan anak didik
Tugas yang diberikan berkaitan dengan materi pelajaran yang telah diberikan
Jenis tugas yang diberikan kepada siswa itu hendaknya telah dimengerti betul oleh siswa, agar tugas dapat dilaksanakan secara baik
Jika tugas yang diberikan itu bersifat tugas kelompok maka pembagian tugas (materi tugas) harus diarahkan, termasuk batas waktu penyelesaiannya
Guru dapat membantu penyediaan alat dan sarana yang diperlukan dalam pemberian tuhas
Setiap hasil kerja PR murid-murid harus dikoreksi dengan teliti, diberi nilai dan kertasnya dikembalikan, untukmemberi rangsangan/dorongan
Perkembangan nilai prestasi murid-murid perlu dicatat pada buku catatan nilai guru agar diketahui grafik belajar mereka
Tugas yang diberikan dapat merangsang perhatian siswa dan realistis

9. Metode Sistem Regu (Team Teaching)
Sistem regu adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dimana dua orang atau lebih bekerja sama untuk mengajar suatu kelompok (group) siswa/kelas tertentu
Kadang-kadang ada unit pelajaran yang tidak dapat disampaikan oleh seorang guru secara keseluruhan. Akan tetapi justru memerlukan bantuan dan kerja sama dari pihak guru lain. Misalnya ; pada pendidikan agama mengenai pelajaran fiqh. Hal mana kemungkinan seseorang guru tidak dapat menguasai bagian-bagian fiqh yang mencakup : Fiqh munakahat, fiqh jinayat, fiqh mu’amalat, termasuk fiqh mawaris dan lain-lain sebagainya, yang tercakup dalam materi ilmu fiqh. Maka cara yang ditempuh adalah dengan jalan/cara sistem beregu. Artinya dua orang guru atau lebih bekerja sama untuk mengajarkan unit-unit materi pelajaran yang terkandung dalam pelajaran fiqh tersebut.
Atau misal lain satu tim sejarah, masing-masing menyajikan sejarah Umum, sejarah Islam, sejarah Indonesia, sejarah pendidikan dan lain-lain. Semua guru tersebut bekerja sama dan saling berkomunikasi mengenai pelajaran sejarah untuk diajarkan
Sesuai dengan sifatnya metode sistem regu (team teaching) dilaksanakan dengan tujuan membantu siswa agar lebih lancar dalam proses belajarnya, dan meningkatkan kerja sama antar guru dalam memikirkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu
Dalam Islam sangat dianjurkan setiap muslim, untuk saling memberi dan saling nasihat-menasehati dalam menuju arah kebaikan dan kebenaran. Sebagaimana tercermin dalam firman Allah yang berbunyi :






Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi kesabaran (Al ‘Ashr : 3).
Sistem regu (Team : teaching) tepat digunakan apabila :
Jumlah siswa terlalu besar, sehingga pembagian tugas belajar kurang merata dan penangkapan siswa kurang sempurna
Pelajaran yang disampaikan mencakup unit yang luas, sehingga hanya dimungkinkan melalui metode sistem regu pengajaran dapat berjalan secara efektif
Pelajaran yang diberikan dimaksudkan agar pengertian dan pemahaman siswa lebih luas dan mendalam
Kerja sama dan komunikasi antar regu bidang studi tersebut dapat memungkinkan terlaksana
Fasilitas dan sarana untuk itu cukup tersedia
Kelebihan metode sistem regu
Melalui metode sistem regu (team teaching) ini banyak menguntungkan, karena interaksi mengajar akan lebih lancar
Penguasaan dan pemahaman siswa terhadap pelajaran yang diberikan dapat mendalam. Karena masing-masing guru bidang studi dapat memberikan / kajian yang berbeda-beda sesuai dengan spesialisasi mereka masing-masing
Unsur kerja sama antar siswa dan guru masing-masing bidang studi sangat menonjol, sehingga dimungkinkan adanya kerja sama yang harmonis, yang justru sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar
Tugas mengajar guru sedikit lebih ringan, sehingga cukup waktu untuk merencanakan persiapan mengajar yang lebih baik
Pelajaran yang diberikan oleh guru, melalui metode sistem regu ini dipertanggungjawabkan, karena unit pelajaran ditangani oleh beberapa orang guru
Kekurangan metode sistem regu terletak pada :
Pelajaran menjadi tidak sistematis, apabila masing-masing berjalan sendiri-sendiri, dan tidak adanya koordinasi yang baik. Hal ini dapat berakibat membingungkan dan menyulitkan bagi siswa
Bagi guru yang kurang disiplin, bila mendapatkan giliran bebas tugas, kemungkinan waktu tersebut hanya digunakan untuk beristirahat daripada membuat rencna pelajaran yang baik
Kemungkinan bagi pementukan (team teaching) hanya sekedar memperbincangkan faktor ekonomis dan administrasi pengajaran yang justru hal yang pokok
Apabila tidak tercipta hubungan yang harmonis dan kerja sama yang kompak antar guru bidang studi, maka kemungkinan akan berakibat fatal bagi tercapainya tujuan pengajaran
Kecenderungan sistem pengajaran modern menghendaki adanya pemisahan yang tugas spesialisasi dari masing-masing mata pelajaran
Saran-saran pelaksanaan metode sistem regu :
Komunikasi dan koordinasi antar regu bidang studi harus terbina dengan baik. Sebab hal ini merupakan kunci utama keberhasilan metode sistem regu
Pembagian tugas diusahakan sedemikian rupa dan tidak terjadi tumpang tindih dari masing-masing guru bidang studi
Dalam pelaksanaannya perlu mempertimbangkan segi sarana dan fasilitas yang tersedia
Metode sistem regu (team teaching) selain dapat diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan formal, juga dapat dietrapkan di lembaga-lembaga non formal. Misalnnya pada lembaga pendidikan pondok pesantren, pengajian-pengajian, kursus-kursus dan lain sebagainya.




10. Metode Insersi (Sisipan)
Metode lampiran (insersi), merupakan metode yang baru diperkenalkan belakangan ini. Sehingga metode ini belum begitu dikenal dan populer, tetapi telah sering terlaksana dalam berbagai media dan berdaya guna.
Metode lampiran (insersi), yaitu cara menyajjikan bahan/materi pelajaran dengan cara; inti sari ajaran-ajaran Islam atau jiwa agama/emosi religius diselipkan/disisipkan di dalam mata pelajaran umum (ilmu-ilmu yang bersifat sekuler).
Sifat penyisipan jiwa agama ke dalam mata pelajaran umum, seperti bidang studi hukum, ilmu sosial, ilmu pasti, ilmu sjarah dan bidang-bidang ilmu-ilmu lainnya itu hendaknya disajikan secara halus, sehingga hampir tidak terasa/kentara, bahwa sesungguhnya siswa/mahasiswa telah mendapat suntikan atau santapan rohaniah (agama).
Pelaksanaan pengajaran melalui metode insersi atau lampiran ini dilihat dari segi waktu pelaksanaannya, tidaklah terlalu memakan banyak waktu, sebab disaat berlangsungnya atau berakhirnya pelajaran umum lalu dihubungkan sebentar (2 atau 3 menit), dengan hal-hal yang mengandung nilai agama, baik dengan melalui prolog, melalui cerita mini maupun dengan melalui penguatan dalil logika, yang dapat menggugah semangat dan perhatian siswa/mahasiswa.
Namun yang penting disini, sebagaimana guru dapat merencanakan persiapan mengajar sebaik-baiknya, sebab disini tujuan pokok adalah mengajarkan pelajaran umum. Sedangkan pelajaran agama hanya bersifat sisipan/selipan saja. Guru umum dalam menyajikan pelajaran umum menyisipkan nilai agama disaat ia mengajar umum itu.
Kebaikan metode lampiran/insersi :
1. Dalam pelaksanaannya, melalui metode ini, tidak banyak memakan waktu. Sebab dengancara menyisipkan secara halus terhadap jiwa agama dalam vak umum, guru hanya memerlukan waktu berkisar, 2 sampai 3 menit saja.
Siswa dengan tanpa disadari, telah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman berupa agama berupa santapan rohaniah
Merupakan selingan yang bermanfaat, dan bernilai ibadah.
Tidak memerlukan saran/peralatan yang memadai
Keluhan metode ini :
1. Penyajian pelajaran agama tidak mendalam, karena materi pelajaran agama hanya diberikan sambil lalu
Dapat mengaburkan persepsi anak didik terhadap agama, bila guru tidak pandai membawa murid/siswa kepad pengertian yang jelas. Sebab guru tidak memiliki jiwa agama dan pengetahuan yang cukup. Semestinya sang guru memiliki jiwa agama/motivasi keagamaan yang kuat.
Memerlukan kemahiran dan kejelian dalam membaca situasi kelas, jangan sampai kentara, namun mengena.
Memerlukan perencanaan yang matang. Hal ini merupakan tantangan bagi guru-guru umum, agar dapat memberi napas agama pada tugas-tugas mengajar mereka.
Saran-saran pelaksanaannya :
Sebelum pelajaran disajikan di sekolah, ada dua hal yang perlu diwujudkan oleh seorang guru, yaitu :
a. Persiapan mengajar yang matang setiap kali pertemuan
b. Perencanaan yang serasi mengenai situasi dan kondisi kelas dengan materi pelajaran pokok / umum
Menyajikan bahan pelajaran agama tersebut disesuaikan dengan taraf perkembangan dan pemikiran anak didik/mahasiswa
Memerlukan keseungguhan dan penghayatan jiwa agama yang tinggi dari guru yang memegang mata pelajaran umum
Dalam sejarah, metode lampiran/insersi ini telah dipakai sejak zaman Yunani Kuno. Demikian dalam abad pertengahan Immanuel Kant dan Haigel, telah memanfaatkan cara ini dalam mengembangkan misi agama Kristen.



11. Metode Menyelubung (Wrapping)
Metode membungkus (wrapping method) maksudnya ialah : cara menyajikan bahan/materi pelajaran agama atau hikmah keimanan dan sebagainya, sengaja dibungkus atau diselubungi dengan bentuk-bentuk lain, misalnya kisah cerita atau dengan ilmu-ilmu lain seperti sejarah, ilmu-ilmu skuler yakni vak umum yang ada disekolah atau diperguruan tinggi. Yakni nilai norma agama diselubungu vak umum.
Jadi, untuk menyampaikan pelajaran agam, sengaja dicari materi pelajaran lain bidang umum sebagai pembungkusnya sehingga agama disajikan terselubung dalam pelajaran umum itu. Hal ini dilakukan karena di lembaga sekolah umum tertentu sangat sulit dimasuki pelajaran agama. Maka seorang guru/dosen agama, hanya dapat menempuh dengan cara seperti ini.
Misalnya guru hanya mengajar tentang sejarah Diponegoro, sejarah Perang Salib, dan lain-lainnya. akan tetapi di dalamnya sengaja dihadirkan jiwa keimanan, keutamaan-keutamaan agama serta fungsi kemahakuasaan Tuhan, yang disajikan secara menarik. Sehingga lama-kelamaan secara berangusr-angsur rasa cinta gama dan rasa memilikinya mulai tumbuh dan meresap pada jiwa mereka.
Berbeda dengan inversi atau lampiran, metode membungkus (wrapping), untuk menyampaikan pelajaran agama selalu memulai dengan vak umum yang berfungsi sebagai pembawanya. Dan yang pokok adalah agamanya, sedangkan vak umum (pelajaran umum) hanya sebagai kulitnya.
Pada metode lampiran/inversi, unsur agama/jiwa agama hanya ditumpangkan dalam pelajaran vak umum. Dan tugas pokok sang guru adalah di bidang vak umum tersebut. Walhasil perbedaan kedua metode tersebut (metode lampiran/insersi dengan metode membungkus/wrapping), adalah terletak pada mata pelajarannya.
Kebaikan metode membungkus/wrapping :
Mealui metode membungkus/wrapping, ini berarti guru dituntut disamping menguasai vak agama, sebaga itugas pokkoknya, juga harus menguasai vak umum. Hal ini memungkinkan wawasan guru menjadi luas dan integral.
Pengetahuan siswa menjadi luas, sebagai konsekuensi dari point pertama diatas
Bila guru trampil dan simpatik dalam menyajikan materi pelajaran, dengan sendirinya citra agama dan guru agama yang tadinya dianggap remeh/rendah akan menjadi disenangi/dicintai, bahkan ada keinginan untuk memperdalam ajaran-ajaran agama tersebut.
Kekurangan metode membungkus/wrapping :
Sebagaimana halnya metode lampiran/insersi, maka metode membungkus / wrapping memiliki unsur kelemahan yang cukup mendasar, yaitu :
1. Penyajian materi agama biasanya tidak jelas, bahkan tersamar dengan vak umum yang merupakan sandaran / pembungkusnya
Kebanyakan guru agama Islam/dosen agama, lemah dalam menguasai pelajaran vak umum. Akibatnya kesulitan dalam meramu / menyajikan pelajaran agama itu kedalam vak umum.
Memerlukan perencanaan yang matang. Disini setiap saat akan mengajar guru/dosen agama, bukan saja harus menyiapkan dan menguasai pelajaran agama. Akan tetapi juga harus menyiapkan dan menguasai pelajaran vak umum. Dan unu berarti tugas guru / dosen agama menjadi tidak ringan.
Tidak semua pelajaran agama reliabel dengan pelajaran vak umum.
Saran-saran :
Sebaiknya guru agama meningkatkan pengetahuannya dan penguasaan pelajaran vak umum, agar dengan itu dapat memadukan kedua pelajaran (pelajaran agama dan umum) secara integral, dengan demikian pengetahuan menjadi utuh dan padu.
Pengalaman menunjukkan bahwa, banyak guru agama/dosen yang megajar di lembaga-lembaga pendidikan umum lemah dalam penguasaan metodologi pelajaran. Dan terkesan bahwa materi pelajaran agama yang disampaikan lebih menonjolkan segi-segi hukum agama Islam semata. Dan agama hanya lebih dipandang dari sudut syari’at. Akibatnya siswa/mahasiswa merasa takut untuk belajar agama. Dan acuh untuk mendekatinya. Dan lebih berbahaya lagi memandang remeh guru/dosen agama mereka. Maka dari itu, guru/dosen agama, disamping hendaknya menguasai pelajaran juga menguasai metodologi pengajaran.
Setiap akan memberikan materi pelajaran, guru hendaknya merencanakan materi pelajaran secara matang. Hilangkanlah sikap dan kebiasaan mengajar hanay untuk memenuhi panggilan kewajiban. Guru yang baik adalah ia senantiasa bermotivasi untuk mencari dan menemukan sesuatu yang terbaik untuk anak didiknya
Untuk disadari oleh guru/dosen agama, bahwa ia adalah sosok pribadi yang utuh dan bersih dihadapan anak didiknya. Dan menjadi cahaya panutan dalam semua sikap dan tingkah lakunya. Akan tetapi sesekali kepribadian tadi tercemar oleh pebuatan tercela dan nafsu yang rendah. Maka akibatnya lunturlah kepribadian kepribadian tersebut dan hilanglah roh kebaikan dalam dirinya. Maka dari itu, tunjukkanlah dan jagalah kepribadian itu secara baik.

12. Metode Audio Visual
Metode audio visual yaitu : suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan menggunakan alat-alat media pengajaran yang dapat memperdengarkan, atau memperagakan bahan-bahan tersebut sehingga siswa / murid-murid dapat menyaksikan secara langsung, mengamat-amati secara cermat, memegang / merasakan bahan-bahan peragaan itu. Pada setiap kali penyajian bahan pelajaran semestinya guru menggunakan media pengajaran, seperti lembaran balik, papan planel, proyektor, dan lain sebagainya.
Metode audio visual dikenal dengan keharusan penggunaan audio visual aids atau audio visual material. Ketiga istilah (baik audio visual aids, audio visual material, maupun audio visual method) sama-sama menekankan kepada pemberian pengalaman secara nyata kepada anak didik. Dengan melihat langsung, mendengar, meraba, mencium jika perlu, tentang hal-hal yang dipelajari itu.
Jadi inti pengajaran audio visual ini adalah dipergunakan beberapa alat/bahan media pengajaran antar lain melalui film strip, radio, TV, piringan hitam, tape recorder, gambar-gambar peta, dan lain-lain sebagainya. Lebih utama menggunakan benda-benda asli sebagai peraga.

Langkah-langkah yang ditempuh dengan metode audio visual :
1. Bendanya yang asli itu perlu diperagakan didepan kelas jika mungkin
2. Contohnya dalam ukuran kecil (misalnya miniatur kapal terbang, televisi), dan lain sebagainya
3. Foto dari suatu benda, bentuk-bentuk gambar lain atau guru sendiri dapat menggambarnya di papan tulis
4. Jika ketiga hal tersebut diatas tidak dapat kita usahakan, maka guru dapat menjelaskan bentuk bendanya, sifat-sifatnya, dengan jalan mendemonstrasikan melalui gerakan tangan, kata-kata atau mimik tertentu, sehingga menarik perhatian anak didik/siswa
Kebaikan metode audio visual :
Siswa dapat menyaksikan, mengamati serta mengucapkan langsung sekaligus
Dengan memeragakan bendanya secara langsung tersebut, hal ini sangat menarik perhatian siswa
Pengetahuan siswa menjadi inegral, fungsional dan dapat terhindar dari pengajaran verbalisme
Pengajaran menarik minat dan perhatian siswa
Kekurangan metode audio visual :
Memerlukan waktu dan perencanaan yang matang
Tugas guru menjadi berat, sebab disamping harus merencanakan materi pelajaran yang akan disajikan juga harus menguasai berbagai alat sarana peragaan / media pengajaran berbagai alat sarana peragaan serta alat komunikasi lainnya.
Pengadaan alat sarana peragaan memerlukan biaya dan pemeliharaan yang cukup memadai
Kecenderungan menganggap bahwa pengajaran melalui berbagai macam alat / media pengajaran bersifat pemborosan, bahkan memakan / menyita waktu yang banyak.
Pada pelajaran agama, dengan melalui metode visual ini diharapkan pengajaran menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami serta dihayati. Misalnya pengajaran fiqh, seperti : bagaimana proses mengafani, memandikan mayat / jenazah dengan cara audio visual, atau melalui visualisasi peragaan. Juga dapat diterapkan cara bagaimana proses melaksanakan tawaf. Demikian juga proses pengajaran bahasa Arab melalui alat pendengaran berupa tape recorder. Dan berbagai topik lainnya yang dapat disajikan melalui audio visual tersebut.

13. Metode Pemecahan masalah (problem solving)
Problem solving, adalah uatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan dimana siswa dihadapkan dengan kondisi masalah. Dari masalah yang sederhana, menuju kepada masalah yang sulit/muskil.
John Dewey (AS), sebagai tokoh pencipta metode problem solving ini menyarankan agar dalam pelaksanaan melalui metode ini siswa/siswi dibiasakan percaya pada diri sendiri untuk mengatasi kesulitan/masalah yang sedang dihadapinya. Baik mengenai dirinya sendiri, lingkungan maupun lingkungan dalam arti yang lebih luas, yakni masyarakat.
Pada pelajaran agama melalui penerapan metode problem solving ini, misalnya menyajikan bahan pelajaran fiqh, yakni masalah yang mengandung problematik dan khilafiah para ulama, serta topik lain yang justru mengandung problem bagi siswa untuk kemudian dipecahkan. Tujuan metode ini adalah agar anak-anak terbiasa berlatih menghadapi berbagai masalah, sebagai calon pemimpin ia berkemampua tinggi dan siap mental menghadapi / memecahkan berbagai masalah.
Metode problem solving tepat digunakan :
1. Bila pelajaran dimaksudkan untuk melatih siswa berfikir ilmiah dan analitis
2. Apabila pelajaran dimaksudkan untuk melatih keberanian siswa, dan rasa tanggung jawab dalam menghadapi kehidupan yang menantang
3. Untuk mendorong berfikir mandiri dan berdikasi
4. Apabila untuk menumbuhkan wawasan/harizon yang luas tentang berbagai pemikiran agama Islam
Kebaikan metode problem solving :
1. Mendorong siswa untuk berfikir aktif dan kreatif dalam mencari bentuk-bentuk pemecahan masalah sepenuh hati dan teliti. Meskipun harus melalui trial and error (terus mencoba, meskipun mengalami kesalahan).
2. Mendorong siswa untuk belajar sambil bekerja (learning by doing)
3. Memupuk rasa tanggung jawab
4. Mendorong siswa untuk tidak berfikir sempit, fanatik.
Kekurangan metode problem solving :
1. Tidak semua pelajaran dapat mengandung masalah / problem, yang justru harus dipecahkan. Akan tetapi memerlukan pengulangan dan latihan-latihan tertentu. Misalnya pada pelajaran agama, mengenai cara pelaksanaan shalat yang benar, cara berwudhu, dan lain-lain
2. Kesulitan mencari masalah yang tepat/sesuai dengan taraf perkembangan dan kemampuan siswa
3. Banyak menimbulkan resiko. Terutama bagi anak yang memiliki kemampuan kurang. Kemungkinan akan menyebabkan rasa frustasi dan ketegangan batin, dalam memecahkan masalah-masalah yang muskil dan mendasar dalam agama.
4. Kesulitan dalam mengevaluasi secara tepat. Mengenai proses pemecahan masalah yang ditempuh siswa.
5. Memerlukan waktu dan perencanaan yang matang
Saran-saran dalam pelaksanaan metode problem solving :
Agar metode problem solving ini dapat efektif dalam pelaksanaannya, maka perlu kiranya diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam memilik masalah mempertimbangkan aspek kemampuan dan perkembangan anak didik
2. Siswa terlebih dahulu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
3. Bimbingan secara kontinu dan persediaan alat-alat/sarana pengajaran yang perlu diperhatikan
4. Merencanakan tujuan yang hendak dicapai secara sistematis

14. Metode inquiry
Inquiry yaitu salah satu metode pengajaran dengan cara guru menyuguhkan suatu peristiwa kepada siswa yang menimbulkan teka-teki, dan memotivasi siswa untuk mencari pemecahan masalah.
Metode inquiry ditelusuri dari fakta menuju teori. Dengan harapan agar siswa terangsang untuk mencari dan meneliti, serta memecahkan masalah dengan kemampuannya sendiri
Dalam pelaksanaannya metode inquiry dapat dilakukan dengan cara guru membagi tugas meneliti suatu masalah di kelas. Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus diselesaikan. Kemudian tugas itu mereka pelajari, mereka teliti, serta dibahas bersama-sama dalam kelompoknya. Setelah dibahas, dan didiskusikan, kemudian masing-masing kelompok itu membuat laporan hasil kerja, dengan cara sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Inquiry juga dapat berjalan dengan cara sebagai berikut guru menunjukkan sesuatu benda/barang, atau buku yang masih asing bagi siswa didepan kelas. Kemudian semua siswa disuruh mengamati, meraba, melihat dan membaca dengan seluruh alat indera secara cermat. Lalu guru memberikan masalah, atau pertanyaan kepada seluruh siswa, yang sudah siap dengan jawaban atau pendapat. Dalam hal ini masalah yang diajukan kepada siswa itu tidak boleh menyimpang dari garis pelajaran yang telah diberikan/direncanakan tersebut, metode ini setingkat lebih maju dari problem solving, karena permasalahannya bersifat penelitian (research).
Keunggulan metode inquiry :
1. Mendorong siswa berpikir secara ilmiah dalam setai pemecahan masalah yang dihadapi
Membantu dalam menggunakan ingatan, dan transfer pengetahuan pada situasi proses pengajaran
Mendorong siswa untuk berfikir kreatif dan intuitif, dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri
Menumbuhkan sikap obyektif, jujur dan terbuka
Situasi proses belajar mengajar menjadi hidup dan dinamis
Kekurangan metode inquiry :
1. Memerlukan perencanaan yang teratur dan matang. Bagi guru yang terbiasa dengan cara tradisional, merupakan beban yang memberatkan
Pelaksanaan pengajaran melalui metode ini, dapat memakan watu yang cukup panjang. Apalagi proses pemecahan masalah itu memerlukan pembuktian secara ilmiah
Proses jalannya inquiry akan menjadi terhambat, apabila siswa telah terbiasa cara belajar “nrimo” tanpa kritik dan pasif apa yang diberikan oleh gurunya
Tidak semua materi pelajaran mengandung masalah. Akan tetapi justru memerlukan pengulangan dan penanaman nilai. Misalnya pada pengajaran agama, mengenai keimanan, ibadah dan akhlak
Metode inquiry ini baru dilaksanakan pada tingkat SLTA, Perguruan Tingi. Dan untuk tingkat SLTP dan tingkat SD masih sulit dilaksanakan. Sebab pad tingkat tersbeut anak didik belum mampu berpikir secara ilmiah, merupakan ciri dari metode inquiry.
Hal-hal yang dapat mempertinggi teknik inquiry :
Agar teknik inquiry dapat dilaksanakan dengan baik, memerlukan kondisi belajar sebagai berikut :
1. Menciptakan situasi kondisi yang fleksibel (tidak terlalu kaku) dalam interaksi belajar, dan siswa belajar dari perasaan takut dan tekanan
Kondisi lingkungan yang dapat memancing gairah intelektual, dan semangat belajar yang tinggi
Guru mampu menciptakan situasi belajar yang kondusif dan responsif

15. Metode karya wisata
Karyawisata atau sering disebut study tour, yaitu melakukan studi kunjungan, kesuatu tempat atau obyek tertentu.
Dengan kata lain metode karya wisata yaitu suatu cara mengajar dengan jalan guru mengajar atau membawa siswa ke suatu tempat/obyek tertentu yang ada hubungannya dengan pendidikan atau memiliki nilai sejarah dan sebagainya. Misalnya guru membawa siswa-siswa untuk mengunjungi tempat-tempat, seperti : pabrik-pabrik (pabrik mobil, pabrik tenun, pabrik tapioka), mengunjungi tempat percetakan-percetakan, tempat kebun binatang, musium perjuangan, makam pahlawan, panti-panti asuhan, yayasan-yayasan yatim paiatu, dan lain-lain tempat yang sangat baik untuk dikunjungi dalam rangka mengkongkretkan bahan-bahan pengajaran/pengalaman lapangn
Dengan karya wisata dimaksudkan agar siswa dapat menyaksikan secara langsung, bagaimana proses pembuatan mobil itu, membuat kain dan merancang pakaian yang indah, menyaksikan bagaimana mengeliola berbagai Mass Media sehingga menjadi bahan bacaan dan informasi yang berharga. Demikian juga dengan mengunjungi kehidupan binatang di kebun bintang, dan musium-musium yang memiliki nilai sejarah. Sehingga dengan kunjungan karyawisata itu siswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman langsung yang bermanfaat untuk dihayati dan dipraktekkan.
Daam pendidikan agama Islam, melalui metode karyawisata ini sangat bermanfaat bagi anak didik untuk membangkitkan jiwa dan semangat agama mereka dengan melalui kunjungan ke tempat-tempat panti asuhan anak yatim, yang memerlukan santunan dan uluran tangan dari kaum muslim smua. Demikian pula bertamasya ke suatu tempat berpemandangan yang indah yang menakjubkan dan menggugah semangat jiwa keagamaan siswa sebagai suatu ciptaan Tuhan yang ajaib dan mengagumkan, dengan seraya berkata :


Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharaklah kami dari siksa neraka
Dan ini berarti satu aspek jiwa agama telah kita tanamkan kepada anak-anak Islam kita
Keunggulan metode karya wisata :
1. Siswa dapat menyaksikan secara langsung bagaimana proses pembuatan / merakit mobil, merancang/menenun pakaian yang indah, dan bagaimana kehidupan binatang di kebun binatang yang kadang-kadang jarang mereka lihat di kelas itu.
Dapat menjawab masalah atau pertanyaan sekaligus selama di lapangan dengan mempertanyakan, mengamat-amati, mencatat, menyimpulkan dan lain-lain terhadap hal-hal yang belum/kurang dipahami
Dengan melalui dua hal tersebut diatas, dimungkinkan siswa dapat mempraktekkan hasil karyawisata/hasil kunjungannya.
Pengetahuan siswa menjado integral / terpadu
Sebagai selingan yang menyenangkan yang dapat menimbulkan semangat baru untuk belajar dengan sungguh-sungguh
Menimbulkan cakrawala pikir/ harizon yang luas dan intuisif
Kekurangan metode karya wisata :
Dari segi perencanaan dan pelaksanaannya, metode karya wisata ini memakan waktu yang cukup lama/panjang
Dilihat dari segi tenaga dan biaya, metode ini juga tampak kurang efisien dan efektif
Dapat membawa resiko perjalanan cukup besar
Karya wisata cenderung berdifat serimonial ketimbang untuk menambah pengetahuan dan pengalaman
Langkah-langkah pelaksanaan karyawisata
Agar metode karya wisata dapat terlaksana dengan efektif, maka perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
Merumuskan tujuan yang hendak dicapai secara matang
Dapat mempertimbangkan segi untung rugi serta manfaat karya wisata dilaksanakan
Jika karyawisata menuju tempat-tempat pabrik, ke suatu percetakan, musuam bersejarah dan ke panti asuhan biasanya diadakan terlebih dahulu kontak / hubungan dengan pimpinan instansi bersagkutan, dan menetapkan waktu pelaksanaannya
Mempersiapkan segala perangkat/peralatan yang diperlukan dalam perjalanan
Bila diperlukan bentuklah tim panitia pelaksana karya wisata. Yang bertugas mengkoordinir dan bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan karyawisata dan keamanan
Membuat tata tertib yang harus ditaati, merencanakan waktu yang tepat, rencana biaya dan sebagainya jauh-jauh hari sebelumnya
Mendiskusikan hasil karyawisata, serta merumuskan follow up dari hasil karya wisata. Misalnya dengan membuat laporan dan karangan ilmiah
Perli berhati-hati agar pelaksanaan metode ini tidak hanya merupakan pikink belaka

16. Metode proyek (Project Method)
Kata proyek berasal dari bahasa latin, yaitu proyektum yang berarti maksud tujuan, rancangan, rencana. Jadi memproyeksikan berarti : merancang, merencanakan dengan maksud dan tujuan tertentu. Mempunyai perencanaan yang baik (planning) di dalam kegiatan-kegiatan tahunan dan sebagainya.
Dengan kata lain, metode proyek yaitu cara mengajar dengan jalan memberikan kegiatan belajar kepada siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih, merancang dan memimpin pikiran serta pekerjaannya. Anak-anak dilatih agar berencana di dalam tugas-tugasnya.
Metode proyek ini untuk pertama kalinya, diperkenalkan oleh John Dewey. Yang kemudian dikembangkan oleh W.H. Kilpatrik. Di Eropa abad XX ini giat sekali mengembangkan metode proyek ini. Di Indonesia metode proyek ini mendapat perhatian yang besar dari kalangan pembaharuan pendidikan dan pengajaran.
Langkah-langkah yang ditempuh melalui metode proyek ini yaitu :
Pertama : Merencanakan proyek yang akan dilaksanakan. Misalnya ; berapak kali kita melakukan proyek selama satu tahun.
Kedua : Pengalokasian waktu, dengan menghitung berapa minggu diadakan proyek dalam satu tahun. Misalnya untuk sementara waktu tiga kali dalam satu tahun sudah mencukupi. Tiap-tiap masa belajar 2 ½ bulan lamanya, diselingi masa proyek kira-kira satu bulan.
Mengenai pengalokasian waktu, misalnya dapat kita beri contoh di bawah ini .
Contoh alokasi waktu proyek dalam satu tahun :
Aug
Sep
Okt
Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Masa belajar
Masa belajar
Masa belajar
Masa belajar
Masa belajar
Masa belajar

Ini berarti jika dalam satu tahun ada 42 minggu kita pergunakan tiga kali dalam setahun untuk pelajaran proyek. Tiap-tiap bagian misalnya 4 minggu untuk proyek, maka dalam tiga bagian tersebut ada 12 minggu untuk proyek. Tentu saja di dalam 12 minggu tidaklah penuh 100% untuk metode proyek tersebut.
Proyek biasanya tidak lebih dari 50% dari waktu yang diperlukan. Jadi berarti hanya dipergunakan waktu ± 6 minggu dalam 1 tahun. Atau hanya 1/7 bagian dari seluruh waktu perjalanan/belajar yang disediakan. Dan ini waktunya tidak terlalu banyak dan tidak pula terlalu sedikit (jadi sedang).
Keunggulan metode proyek :
1. Dengan pengajaran royek, dapat membangkitkan dan mengaktifkan siswa, dimana masing-masing belajar dan bekerja sendiri
2. Melalui metode proyek memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajari
3. Melalui metode proyek memperhatikan segi minat, perbedaan serta kemampuan masing-masing individu siswa
4. Dapat menumbuhkan sikap sosial dan bekerja sama yang baik
5. Dapat membentuk siswa dinamis dan ilmiah dalam berbuat/berkarya
Kekurangan metode proyek :
1. Memerlukan perencanaan yang matang
2. Tidak smua guru merencanakan/terbiasa dengan metode proyek. Sebab dengan metode proyek guru dituntut untuk bekerja keras dan mengorganisir pelajaran yang menjadi proyek secara terencana
3. Bila proyek diberikan terlalu banyak, akan berakibat membosankan bagi siswa
4. Bagi sekolah tingkat rendah (SD dan SLTP), metode proyek masih siulit dilaksanakan. Sebab metode proyek menuntut siswa untuk mencari, membaca, memikirkan serta dapat memecahkan masalahnya sendiri
5. Dilihat dari segi aktivitasnya, organisasi sekolah menjadi tidak sederhana. Disamping memerlukan banyak fasilitas, tenaga dan finansial

17. Metode Socrates
Metode Socrates adalah metode yanng dibuat/dirancang oleh seorang tokoh filsafat Yunani yang ulung. Yaitu Socrates (hidup antar tahun 469-399) sebelum masehi.
Metode Socrates (Socrates Method), yaitu suatu cara menyajikan bahan/amateri pelajaran, dimana anak didik/ siswa dihadapkan dengan suatu deretan pertanyaan-pertanyaan, yang dari serangkaian pertanyaan-pertanyaan itu diharapkan siswa mampu/ dapat menemukan jawabannya, atas dasar kecerdasannya dan kemampuannya sendiri
Dasar filsafat metode Socrates ini, adalah pandangan dari Socrates, bahwa pada tiap individu anak didik telah ada potensi untuk mengetahui kebenaran dan kebaikan serta kesalahan. Dan dengan demikian seseorang sekalipun kelihatannya bodoh mungkin pula berpendapat / berbuat sebaliknya.
Langkah-langkah metode Socrates yaitu :
Menyiapkan deretan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa, dengan memberi tanda atau kode-kode tertentu yang diperlukan
Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa dan siswa diharapkan dapat menemukan jawabannya yang benar
Jika pertanyaan yang diajukan itu terjawab oleh siswa, maka guru dapat melanjutkan/mengalihkan pertanyaan berikutnya hingga semua soal dapat selesai terjawab oleh siswa.
Jika pada setiap soal pertanyaan yang diajukan ternyata belum memenuhi tujuan, maka guru hendaknya mengulangi kembali pertanyaan tersebut. Dengan cara memberikan sedikit ilustrasi, apersepsi dan sekedar meningkatkan dan memudahkan berpikir siswa, dalam menemukan jawaban yang tepat dan cermat.
Kebaikan metode Socrates adalah :
Membimbing siswa berpikir rasional dan ilmiah
Mendorong siswa untuk aktif belajar dan menguasai ilustrasi pengetahuan
Menumbuhkan motivasi dan keberanian dalam mengemukakan pendapat dan pikiran sendiri
Memupuk rasa percaya pada diri sendiri
Meningkatkan partisipasi siswa dan berlomba-lomba dalam belajar yang menimbulkan persaingan yang dinamis
Menumbuhkan disiplin
Kekurangan metode Socrates sebagai berikut :
Metode Socrates dalam pelaksanaannya masih sulit dilaksanakan, pada sekolah tingkat rendah. Sebab siswa belum mampu berpikir secara mandiri
Metode Socrates terlalu bersifat mekanis, dimana anak didik dapat dipandang sebagai mesin, yang selalu siap untuk digerakkan
Lebih menekankan dari segi efektif (aspek berfikir) daripada kognitif (penghayatan/perasaan). Padahal pengajaran agama sangat menonjolkan segi perasaan dan penghayatan ini
Kadang-kadang tidak semua guru selalu siap memakai metode Socrates, karena metode Socrates menuntut dari semua pihak baik guru maupun siswa sama-sama aktif untuk belajar dan menguasai bahan/ilmu pengetahuan.
Saran-saran :
Metode Socrates sangat baik diterapkan pada tingkat-tingkat atas dan perguran tinggi. Untuk melatih ketangkasan dan kecerdasan
Perlu perencanaan secara matang, dan menguasai bahan/materi yang akan diberikan berupa pertanyaan-pertanyaan dan soal-soal
Perlu diselingi dengan metode-metode lain. Seperti metode diskusi, demonstrasi, dan selingan lain yang dapat meghilangkan kejenuhan dan ketegangan
Bahan/materi yang akan disajikan, hendaknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kecerdasan anak didik
Pada setiap akhir pertanyaan selesai dijawab oleh siswa, guru dapat memberikan ulasan dan kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pertanyaan yang terjawab itu.
Pada pelajaran agama, metode Socrates dapat diterapkan dalam menyajikan bahan pelajaran Sejarah Islam, Fiqih, yang memerlukan pemikiran dan penguasaan melalui dalil-dalil dan argumentasi yang kuat.

18. Metode Herbart
Metode Herbart diambil dari nama seorang penciptanya yaitu ; Johan priedrich Herbart (1776-1841). Sebagai seorang ahlia dalam bidang filsafat dan ilmu jiwa asosiasi, Herbart banyak memberikan sumbangan pemikiran dan pengetahuan dalam bidang pendidikan. Antara lain Herbart telah berhasil menciptakan suatu metode mengajar yang dalam banyak hal dapat memberikan sumbangan dalam proses belajar mengajar
Metode Herbart yaitu suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan menghubung-hubungkan antara tanggapan lama dengan tanggapan yang baru sehingga menimbulkan berbagai tanggapan dari siswa
Langkah-langkah metode Herbart yang perlu dilakukan sebagai berikut :
Tahap persiapan
Pada langkah persiapan, guru mempersiapkan secara matang terhadap bahan/materi pelajaran yang akan disajikan, kemudian mengadakan apersepsi terhadap pelajaran yang telah/lalu dengan pelajaran yang akan diberikan
Tahap penyajian bahasa pelajaran
Setelah diadakan apersepsi, langkah berikutnya guru mulai memberikan materi pelajaran, dengan dimulai dari hal-hal yang kongkret kepada yang abstrak, dari yang mudah/sederhana menuju kepada yang sukar/muskil. Sehinggga pelajaran dapat diberikan berurutan dan sistematis
Proses asosiasi
Pada langkah ini guru mengadakan asosiasi/menautkan atau menghubungkan serta membandingkan pelajaran yang telah lalu dengan pelajaran yang telah diberikan/akan diberikan sehingga pelajaran memiliki hubungan simultan
Pengorganisasian bahan
Langkah berikutnya adalah mengorganisasi bahan yang baru dengan yang lama itu sebagai suatu hasil hubungan asosiasi yang menjadi suatu sistem pengertian yang kompak dan utuh. Tidak terpisah-pisah dan terpotong-potong
Aplikasi (penerapan)
Sebagai langkah terakhir, guru memberikan soal-soal, latihan-latihan dan mempraktekkan hasil pelajaran yang telah diberikan.
Sehingga jika kita gambarkan langkah-langkah metode Herbart tersebut dalam bentuk denah/bagan adalah sebagai berikut :


1. Langkah aplikasi

2. Langkah persiapan mengejar

3. Langkah penyajian bahan

4. Langkah pengasosiasian bahan

5. Langkah pengorganisasian









Keunggulan metode Herbart yaitu :
1. Pelajaran disajikan secara beruruta/sistematis
2. Pengetahuan anak menjadi utuh dan fungsional
3. Siswa dapat mengetahui hubungan dan kaitan dari masing-masing mata pelajaran. Sehingga dapat menentukan urutan stadia (tangga) pelajaran tersebut.
4. Pelajaran bernilai praktis, dan dapat diaplikasikan tidak hanya teori
Kelemahan metode Herbert adalah :
1. Pelajaran biasanya cenderung dipaksa-paksakan
2. Pengajaran bersifat mekanik. Dan terlalu menganggap anak sebagai mesin yang siap dibawa dan digerakkan
3. Fleksibelitas kurikulum kurang diperhatikan
4. Untuk menyusun rencana pengajaran, memakan waktu agak panjang
[1] Winarno Surachman, Metodologi Pengajaran Nasional, Jammers, Bandung, 1980, hlm 76
Baca Juga : - Tayar Yusuf, Ilmu Praktek Mengajar, Al-Ma’arif, bandung, 1985
- Depag, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta, 1980
[2] Tayar Yusuf. Ilmu Praktek Mengajar, Metodik Khusus Pengajaran Agama. Al-Ma’arif, Bandung, 1985. hlm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia