Senin, 23 Juni 2014

FINAL TEST WRITING IV 2014

A. Answer the following questions in Indonesian language. 1. what is research article? 2. Mention the procedure of making research paper? 3. What is outline? 4. What is paraphrasing? 5. Mention three techniques to make paraphrase? 6. Make paraphrase the following text The priority of teaching English in school is reading, because it can cover the three other skills. Besides, the people who always read books written in English, they will be easier to do the other skills. B. Make an OUTLINE of paper writing by choosing one of the following topics. 1. Improving Students’ Reading Skill 2. Developing students’ speaking skill 3. The Importance of the General Election for Determining a President 4. Scientific Approach for Teaching English at Junior High School

Selasa, 10 Juni 2014

ECEC MENGGUGAH MINAT SISWA BERBAHASA INGGRIS oleh Kristini, S.Pd

ABSTRAK : Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa asing di negara kita yang dimasukkan dalam kurikulum nasional sebagai mata perlajaran yang dipelajari dari ditingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, bahasa Inggris memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat komunikasi secara international baik secara lisan maupun tulisan. Oleh sabab itu, di sekolah penekanan pembelajaran bahasa Inggris mencakup 4 keterampilan yaitu Listening (mendengarkan), Speaking (Berbicara), Reading (membaca) dan Writing (menulis). Ada dua faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa Inggris siswa; faktor internal (siswa) dan faktor external (guru, dan lingkungan). Sebagai salah satu faktor pendukung keberhasilan siswa dalam belajar bahasa Inggris, guru perlu menemukan kiat-kiat dan inovasi agar bisa menggugah minat siswa untuk mempelajarinya. Diantara kiat-kiat tersebut adalah ECEC (English Club dan English Compettition).      KatA Kunci : ECEC, Minat, Bahasa Inggris I. PENDAHULUAN :      Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa asing di negara kita yang dimasukkan dalam kurikulum nasional sebagai mata perlajaran yang dipelajari dari ditingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, bahasa Inggris memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat komunikasi secara international baik secara lisan maupun tulisan. Oleh sabab itu, di sekolah penekanan pembelajaran bahasa Inggris mencakup 4 keterampilan yaitu Listening (mendengarkan), Speaking (Berbicara), Reading (membaca) dan Writing (menulis). Keempat keterampilan ini harus dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Namun di sisi lain menguasai ke 4 skill ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Perlu adanya kiat-kiat dan inovasi yang bisa memotivasi, membuat siswa tertarik dan merasa mudah untuk mempelajarinya. Menilik Perkembangan siswa-siswa di beberapa sekolah-sekolah mengenai pembelajaran bahasa Inggris sangatlah rendah. Hal ini disampaikan oleh beberapa guru bahasa Inggris di suatu forum Musyawarah Guru Mata Pelejaran mengenai hasil nilai ulangan harian, nilai ulangan tengah semester, nilai akhir semester dan nilai ujian sekolah, try out Ujian Nasional maupun nilai Ujian Nasional yang menurun pada tahun pelajaran 2012/2013. Disampaikan juga bahwa motivasi dan minat siswa-siswa dalam belajar bahasa Inggris sekarang ini sangat rendah. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor intern dan ekstern. Faktor Intern berasal dari dalam diri siswa seperti daya kognitif, sikap dan kreativitas, sedangkan faktor ektern berasal dari luar diri siswa seperti faktor guru, lingkungan dan metode atau tehnik pembelajaran. Kedua faktor itulah yang menjadi kendala dan permasalahan terhadap ketidakberhasilan siswa dalam belajar bahasa Inggris. Dalam hal ini seorang guru mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan kualitas belajar mengajar bahasa Inggris di kelas. Bagaimana seorang guru itu membuat siswa menjadi aktif, kreatif, termotivatif, dan inspiratif guru harus membuat suatu perubahan dan pembaharuan atau inovasi pembelajaran.     Untuk itu proses pembelajaran menjadi suatu hal yang sangat penting demi terciptanya pembelajaran yang efektif dan tepat sesuai dengan Peraturan Pemerintah Tentang Standar Nasional Pendidikan Bab IV Pasal 19 ayat 1 yang mengatakan: ‘bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik’     Berdasarkan uraian di atas sebagai guru harus melakukan perubahan dan pembaharuan setiap kegiatan belajar mengajar dengan cara membuat inovasi pembelajaran yang bisa menggugah motivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris.      II. PEMBAHASAN: Peran Guru Dalam Inovasi Pembelajaran     Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.     Lalu bagaimanakah pembelajaran yang disebut sukses? Smith dan Ragan mengemukakan beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan sebuah proses pembelajaran, antara lain efektivitas; efisiensi dan daya tarik. Pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang mampu membawa siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi seperti yang diharapkan. Pembelajaran efisien memiliki makna adanya aktivitas pembelajaran yang berlangsung dengan menggunakan waktu dan sumber daya yang relatif sedikit. Pembelajaran perlu diciptakan agar menjadi sebuah peristiwa yang menarik minat dan motivasi belajar siswa( dalam Pribadi,2011.hal15-16).      Dengan demikian, maka dalam pembelajaran, keterlibatan guru mulai dari perencanaan, pembuatan inovasi sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris. ECEC Penggugah minat siswa belajar bahasa Inggris     ECEC singkatan dari English Club dan English Competition. Ini merupakan dua inovasi yang seharusnya dikembangkan oleh guru-guru bahasa Inggris di sekolah dalam menunjang keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris di kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Berikut ini akan dijelaskan tentang kedua inovasi tersebut. English Club   English Club merupakan salah satu kegiatan ekstra kurikuler di sekolah yang dilaksankan satu minggu sekali di luar jam belajar pada sore hari. Pembinanya adalah salah satu guru bahasa Inggris yang ditunjuk oleh sekolah tersebut dan pesertanya adalah siswa-siswa yang memilih ekstrakurikuler tersebut. Namun masih banyak sekolah-sekolah yang belum memilih English Club sebagai kegiatan ekstra kurikuler, hal ini dikarenakan oleh beberapa alasan tertentu yang bersifat intern guru dan sekolah tersebut. Padahal kegiatan ini sangat besar manfaatnya dalam menunjang pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Kegiatan English Club tentunya berbeda dengan kegiatan pembelajaran bahasa Inggris pagi hari di kelas. Pada English club siswa lebih santai dan releks karena siswa diajak belajar secara tidak formal. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah seperti playing game untuk menguasai vocabulary (kosa kata bahasa Inggris), singing song dan mempraktekkan ke 4 skill dalam bahasa Inggris seperti listening, speaking, reading dan writing. Siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ini akan jauh lebih berani dan memiliki mental yang kuat serta motivasi yang tinggi dalam menghadapi kesulitan ketika belajar bahasa Inggris. Kegiatan English Club ini juga dilaksanakan untuk mempersiapkan siswa mengikuti english competition yang diadakan di tingkat sekolah, kabupaten, provinsi maupun nasional. Sehingga mempermudah sekolah untuk memilih atau menyeleksi dan menunujuk siswa yang dianggap berpotensi. Adapun manfaat-manfaatnya adalah : Siswa mendapat tambahan wawasan dan pengetahuan serta kosa kata tentang bahasa Inggris Siswa bisa mempraktekkan bahasa Inggris secara aktif Melatih kepercayaan diri siswa untuk berbicara di depan umum Melatih siswa untuk berpikir kritis dalam mengahadapi dan menyelesaikan masalah. Mempersiapkan siswa untuk mengikuti kompetisi bahasa Inggris     Jadi kegiatan ekstrakurikuler english club besar manfaatnya bagi siswa secara individu jika benar-benar dilaksanakan. English Competition     English competition adalah kompetisi dalam bahasa Inggris berbentuk perlombaan yang biasanya diselenggarakan oleh dinas pendidikan, sekolah, forum guru seperti MGMP dan suatu lembaga pendidikan swasta. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati event-event tertentu seperti memperingati bulan bahasa, hari sumpah pemuda, hari ulang tahun, hari – hari besar lainnya ataupun sudah menjadi agenda resmi tahunan dinas pendidikan untuk mengikuti kompetisi di tingkat provinsi ataupun nasional.          Adapun tujuan mengadakan dan mengikuti english competition adalah : Untuk menggali potensi dan prestasi siswa dalam berbahasa Inggris. Untuk mengukur kemampuan siswa berbahasa Inggris. Untuk melatih keberanian dan mental siswa berbicara didepan umum serta mengajak siswa untuk berpikir kritis. Mengajak siswa berkempetisi secara sehat, positif, dan sportif.     Jenis-jenis kegiatan dalam English Competition yang sering diselenggarakan baik di sekolah maupun di luar sekolah adalah a. English speech contest b. English story telling c. English debate contest d. English drama e. Whisperring contest f. Spelling bee contest g. Reading poetry h. Reading news i. English quiz contest j. Singing an English Song dll.     Jenis kegiatan kompetisi bahasa Inggris ini bisa juga dilaksanakan di sekolah dalam rangka class meeting ataupun hari ulang tahun sekolah. Yang mana peserta kegiatan tersebut mencakup siswa-siswa yang ada di sekolah tersebut untuk class meeting, sementara untuk kompetisi bahasa Inggris dalam rangka ulang tahun sekolah pesertanya bisa dari luar. Dalam kompetisi biasanya disediakan hadiah bagi para pemenang dengan tujuan untuk menarik minat siswa dan memotivasi untuk mengikuti kompetisi. Hadiah itu bisa berupa piala, medali, uang ataupun piagam penghargaan. Kegiatan English competition ini mempunyai banyak manfaat diantaranya adalah : Memotivasi siswa dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris Mendukung tercapainya tujuan pembelajaran bahasa Inggris di kelas Melatih mental siswa berbicara di depan umum.. Melatih siswa berpikir secara kritis dan merasa tertantang untuk mengikuti kompetisi secara sportif. Melatih siswa berkompetisi secara positif.     Jadi kedua inovasi tersebut di atas merupakan kegiatan pendukung di luar jam mengajar yang sangat membantu guru dalam pengembangan pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Karena English Club sangat membantu siswa-siswa secara individu mempersiapkan keberanian diri, menambah wawasan dan pengetahuan dalam meningkatkan kompetensinya berbahasa Inggris. Sedangkan English Competition juga memotivasi siswa untuk berbuat, bertindak dan tertarik pada suatu kegiatan yang sifatnya menantang dan kompetitif untuk mengukir prestasi siswa. Dengan adanya ECEC (English Club dan English Competition) yang diikuti oleh sebagian siswa, guru terbantu dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.      III. PENUTUP: Guru bahasa Inggris adalah factor yang sangat dominan yang mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar bahasa Inggris. Untuk itu guru bahasa Inggris dituntut untuk selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran bahasa Inggris. English Club dan English competition adalah salah satu buentuk inovasi yang bisa dilakukan oleh guru bahasa Inggris. Daftar Pustaka Pribadi Media A.(2011). Model Assure Untuk Mendesain Pembelajaran Sukses.     Jakarta: Dian Rakyat. Undang-undang No.20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Nuasa Aulia WWW. EnglishClub.com. (2013). Pentingnya English Club. Diakses tanggal 5 Desember 2013

Rabu, 12 Maret 2014

THREE COMPONENTS OF WRITING SKILL

There are three components to writing skill. They are grammatical skill, compositional skill, and domain knowledge. 1.Grammatical skill: Grammatical skill is the ability to construct meaningful sentences. It is the ability to construct sentences, not the ability to diagram them, which is necessary for writing. We all have a basic degree of grammatical skill. We could not communicate without it. When people say that everyone can write, I suspect that they mean simply that everyone can construct meaningful sentences and record them on paper. Not quite everyone qualifies to this standard, but in the developed world, most people do. We can develop a much higher level of grammatical skill than mere literacy requires. Some people can construct complex and beautiful sentences with ease. A certain elegance, fluidity, and grace in the construction of a sentence is one of the hallmarks of a good writer in all fields. 2.Compositional skill: Compositional skill is the ability to organize words to produce an effect. Storytelling is a compositional skill. A compelling lecture or blog post displays compositional skill. The ability to express ideas systematically and comprehensively belongs to the composition skill. Compositional skill is not an extension of grammatical skill. It is a separate skill. 3.Domain knowledge: Many technical writers would vehemently deny that domain knowledge is a component of writing skill. Some even go so far as to suggest that ignorance of the subject domain is an asset, that it allows them to appreciate the perspective of the user. However, domain knowledge is important for other reasons than knowledge of the subject matter, as important as that may be. Every decent writer will acknowledge that it is important to know your reader. Technical writers often go to great lengths to collect data on their audience, to construct personas so that they have a model of who they are writing for. There is still another component to domain knowledge. Every domain has its communication conventions. This is in part its language, its jargon, but it goes beyond this. Particular domains have compositional conventions that guide how communications in the field are structured. The existence of these compositional conventions in different domains has two important consequences for our consideration of what constitutes writing skill. The first is that knowledge of the domain combined with sufficient grammatical skill can allow many people to write successfully for others within their domain. The second is that writers from outside the domain, even if they are possessed of great compositional skills, will often fail to communicate in the domain because they don’t know its compositional conventions. What they write might be brilliantly composed, but it will confuse the reader because it does not conform the the conventions they are used to. If we have both compositional skill and domain knowledge, this will allow you to exploit and refine the conventions of the domain to achieve a higher degree of communication. But there is an important caveat to the ability of domain knowledge to compensate for the lack of compositional skill. Domain knowledge, with its attendant knowledge of the compositional forms of the domain, may allow those with little compositional skill to write successfully within their domain, but it does not suffice for communicating outside the domain. http://everypageispageone.com/2011/09/15/three-components-of-writing-skill/

Senin, 09 Desember 2013

Approach, Method, Technique, and Strategy

The terms of approaches, methods and techniques may make some university students and teachers get confuse. As an English teacher the knowledge of these concepts are very important so that we can equip ourselves as a teacher to organize our classroom practices. Teacher as an individual who is put in the classroom situation and is expected to play certain set of roles. In the classroom activities where teacher interact with his students, teacher performs a number of related activities. These activities are the component elements of the teacher's overall behavior in the classroom. In other words, the teacher's behavior in the classroom consists of component acts each of which can be of two kinds. (1). a disorganized and haphazard set of acts without essential and well-intended relatedness among the component acts, (2). an organized, sequential and fully related set of acts each of which is intended to serve some specified purpose. These component units of the teacher's behavior in the classroom is called techniques. Teacher behaves in the classroom and organizes the teaching activities in accordance to a set of proximate principles which are either the teacher's own mental construct or are based on recommendations by experts. These proximate principles or guidelines are called methods. These proximate guidelines are directly linked to two factors. (1). the teacher's own understanding of an insights into the nature or language, the child and of classroom practices themselves, (2). Theories which are directly intended to highlight classroom practices in general language teaching in particular. These comparatively remote principles and theories which on the one hand highlight the language behavior in the classroom, and on the other indirectly control the teacher's classroom performance are known as approaches. The approaches further are determined by the theories on language which may psychological theories or linguistic theories. Anthony (1963:63-7) defines approach, method, and technique as follows: An Approach is a set of correlative assumptions dealing with the nature of language teaching and learning. An approach is axiomatic. It describes the nature of the subject matter to be taught. Method is an overall plan for the orderly presentation of language material, no part of which contradicts, and all of which is based upon, the selected approach. An approach is axiomatic, a method is procedural. Within one approach, there can be many methods. In reference to the definitions above, it can be stated that an approach is conceptual, method is procedural, and technique is the implementation of method in the teaching and learning process. Meanwhile, strategy is the way we implement the technique in the classroom References Anthony, Edward M. 1963. “Approach, Method and Technique.” English Language Teaching 17: 63-57 Brown, H. Douglas 2001 Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy Longman/ Pearson Education, White Plains, New York. .

Minggu, 08 Desember 2013

Strategi Penilaian Hasil Belajar Menurut Kurikulum 2013

Strategi penilaian hasil belajar dengan menggunakan Metode dan Teknik Penilaian sebagai berikut: 1. Metode Penilaian Penilaian dapat dilakukan melalui metode tes maupun nontes. Metode tes dipilih bila respons yang dikumpulkan dapat dikategorikan benar atau salah (KD-KD pada KI-3 dan KI-4). Bila respons yang dikumpulkan tidak dapat dikategorikan benar atau salah digunakan metode nontes (KD-KD pada KI-1 dan KI-2). Metode tes dapat berupa tes tulis atau tes kinerja. a. Tes tulis dapat dilakukan dengan cara memilih jawaban yang tersedia, misalnya soal bentuk pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan; ada pula yang meminta peserta menuliskan sendiri responsnya, misalnya soal berbentuk esai, baik esai isian singkat maupun esai bebas. b. Tes kinerja juga dibedakan menjadi dua, yaitu prilaku terbatas, yang meminta peserta untuk menunjukkan kinerja dengan tugas-tugas tertentu yang terstruktur secara ketat, misalnya peserta diminta menulis paragraf dengan topik yang sudah ditentukan, atau mengoperasikan suatu alat tertentu; dan prilaku meluas, yang menghendaki peserta untuk menunjukkan kinerja lebih komprehensif dan tidak dibatasi, misalnya peserta diminta merumuskan suatu hipotesis, kemudian diminta membuat rancangan dan melaksanakan eksperimen untuk menguji hipotesis tersebut. Metode nontes digunakan untuk menilai sikap, minat, atau motivasi. Metode nontes umumnya digunakan untuk mengukur ranah afektif (KD-KD pada KI-1 dan KI-2). Metode nontes lazimnya menggunakan instrumen angket, kuisioner, penilaian diri, penilaian rekan sejawat, dan lain-lain.Hasil penilaian ini tidak dapat diinterpretasi ke dalam kategori benar atau salah, namun untuk mendapatkan deskripsi tentang profil sikap peserta didik. 2. Teknik dan Instrumen Penilaian Untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan peserta didik dapat dilakukan berbagai teknik, baik berhubungan dengan proses maupun hasil belajar. Teknik mengumpulkan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik terhadap pencapaian kompetensi. Penilaian dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian hasil relajar, baik pada domain kognitif, afektif, maupun psikomotor. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan, yaitu : a. Penilaian Unjuk Kerja Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktek di laboratorium, praktek sholat, praktek olahraga, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/deklamasi dll. Penilaian unjuk kerja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: 1) Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi. 2) Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut. 3) Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. 4) Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati. 5) Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan pengamatan. Penilaian unjuk kerja dapat menggunakan daftar cek dan skala penilaian. 1) Daftar Cek Daftar cek dipilih jika unjuk kerja yang dinilai relatif sederhana, sehingga kinerja peserta didik representatif untuk diklasifikasikan menjadi dua kategorikan saja, ya atau tidak. 2) Skala Penilaian Ada kalanya kinerja peserta didik cukup kompleks, sehingga sulit atau merasa tidak adil kalau hanya diklasifikasikan menjadi dua kategori, ya atau tidak, memenuhi atau tidak memenuhi. Oleh karena itu dapat dipilih skala penilaian lebih dari dua kategori, misalnya 1, 2, dan 3. Namun setiap kategori harus dirumuskan deskriptornya sehingga penilai mengetahui kriteria secara akurat kapan mendapat skor 1, 2, atau 3. Daftar kategori beserta deskriptor kriterianya itu disebut rubrik. Di lapangan sering dirumuskan rubrik universal, misalnya 1 = kurang, 2 = cukup, 3 = baik. Deskriptor semacam ini belum akurat, karena kriteria kurang bagi seorang penilai belum tentu sama dengan penilai lain, karena itu deskriptor dalam rubrik harus jelas dan terukur. ) Penilaian Sikap Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespons sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: afektif, kognitif, dan konatif/perilaku. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran adalah: a) Sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap matapelajaran. Dengan sikap`positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. b) Sikap terhadap guru/pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. c) Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran mencakup suasana pembelajaran, strategi, metodologi, dan teknik pembelajaran yang digunakan. Proses pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. d) Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran. Misalnya, masalah lingkungan hidup (materi Biologi atau Geografi). Peserta didik perlu memiliki sikap yang tepat, yang dilandasi oleh nilai-nilai positif terhadap kasus lingkungan tertentu (kegiatan pelestarian/kasus perusakan lingkungan hidup). Misalnya, peserta didik memiliki sikap positif terhadap program perlindungan satwa liar. e) Teknik Penilaian Sikap Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut. i. Observasi perilaku Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didiknya. Hasil observasi dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. ii. Pertanyaan langsung Guru juga dapat menanyakan secara langsung tentang sikap peserta didik berkaitan dengan sesuatu hal. Misalnya, bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai “Peningkatan Ketertiban”. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap. Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah, guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik. iii. Laporan pribadi Teknik ini meminta peserta didik membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap. Misalnya, peserta didik diminta menulis pandangannya tentang “Kerusuhan Antaretnis” yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Dari ulasan yang dibuat peserta didik dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya 2) Tes Tertulis a) Pengertian Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar, dan lain sebagainya. b) Teknik Tes Tertulis Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu: i. Soal dengan memilih jawaban (selected response), mencakup: pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan. ii. Soal dengan mensuplai jawaban (supply response), mencakup: isian atau melengkapi, uraian objektif, dan uraian non-objektif. Penyusunan instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut. i. materi, misalnya kesesuaian soal dengan KD dan indikator pencapaian pada kurikulum tingkat satuan pendidikan; ii. konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. iii. bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. iv. kaidah penulisan, harus berpedoman pada kaidah penulisan soal yang baku dari berbagai bentuk soal penilaian. 3) Penilaian Projek a) Pengertian Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada matapelajaran tertentu secara jelas. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: i. Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. ii. Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. iii. Keaslian Projek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. b)Teknik Penilaian Proyek Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan skala penilaian dan daftar cek c) Penilaian Produk Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: i. Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk. ii. Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik. iii. Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. d) TeknikPenilaian Produk Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. i. Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal. ii. Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. e) Penilaian Portofolio Pengertian Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya peserta didik secara individu pada satu periode untuk suatu matapelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik.Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi, musik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah, antara lain: i. Karya peserta didik adalah benar-benar karya peserta didik itu sendiri Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri. ii. Saling percayaantara guru dan peserta didik Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya, saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik. iii. Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan. iv. Milik bersama antara peserta didik dan guru Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya. v. Kepuasan Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri. vi. Kesesuaian Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum. vii. Penilaian proses dan hasil Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik. viii. Penilaian dan pembelajaran Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik. f) Teknik Penilaian Portofolio Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah sebagai berikut: i. Jelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri. Dengan melihat portofolio peserta didik dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya. ii. Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda. iii. Kumpulkan dan simpanlah karya-karya peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing atau loker masing-masing di sekolah. iv. Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. v. Tentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. vi. Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing peserta didik, bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. vii. Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. Namun, antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya 2 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru. viii. Bila perlu, jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Jika perlu, undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio, sehingga orang tua dapat membantu dan memotivasi anaknya.

Rabu, 13 November 2013

ARTIKEL

NILAI-NILAI RELIGIUS 
DALAM UNGKAPAN BAHASA BANJAR
Syaifullah, M.Pd

Abstrak
Kajian terhadap nilai-nilai moral yang terkandung dalam ungkapan bahasa Banjar ini menurut penulis  penting untuk dilakukan, karena dengan penelitian ini dapat menggali nilai-nilai budaya masyarakat Banjar dalam rangka memperkaya kebudayaan Nasional juga sebagai bahan penunjang dalam perencanaan atau kebijaksanaan yang menyangkut kebudayaan daerah Kalimantan Selatan. Disamping itu, penulis  ingin berpartisipasi melestarikan tradisi daerah yang berbentuk sastra lisan.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai religius yang terdapat pada ungkapan bahasa Banjar.

Kata Kunci: Nilai, Religius, Bahasa Banjar

I.        Pendahuluan
A. Latar Belakang
Masyarakat Banjar kaya akan peribahasa dan ungkapan tradisional. Peribahasa yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Banjar ini adalah warisan turun temurun dari nenek moyang, dengan kata lain “Adat Pusaka“ yang dipegang oleh orang-orang Banjar. Dan “Pusaka Urang Bahari“ ini seharusnyalah kita pertahankan sampai “kamati”. Kalau kita lihat dalam arus perkembangan zaman ini, yaitu era “Globalisasi“, tentu sangat memperihatinkan. Sebab orang-orang Banjar sendiri telah melupakan Pusaka Urang Bahari.
Peribahasa dalam bahasa Banjar merupakan salah satu bagian dari bahasa sastra lisan yang telah dihasilkan oleh masyarakat Banjar pada masa lalu dengan berbagai bentuk dan keunikannya. Bahkan hingga saat ini pun masih banyak ditemukan dan dipergunakan oleh masyrakatnya dalam berbagai kesempatan tertentu (Effendi, 1993: 3). Ungkapan tradisional merupakan karya sastra lama dan termasuk jenis karya sastra lisan yang diwariskan oleh nenek moyang (orang tua dulu yang pandai berbahasa). Sedangkan keberadaan dari ungkapan tradisional itu sendiri, tidak hanya memberikan hiburan kepada para pendengar (masyarakat), akan tetapi lebih ditekankan pada penafsiran makna implisit yang lebih mendalam (nilai-nilai agung). Keagungan nilai-nilai ungkapan tradisional itu merupakan gambaran atau lukisan kehidupan manusia sehari-hari.  
Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan perulangan berubah bunyi dan perulangan unik. Dalam ungkapan Banjar juga terdapat perulangan berubah bunyi. Misalnya,  pada kata-kata  berikut,  “adu asah” sama dengan beradu-adu  (sifatnya negatif ), adu domba. Contoh dalam kalimat,” Karana adu asah Si Udin, kami takalahi“ artinya Karena aduan Si Udin, kami jadi berkelahi. Makna dari ungkapan bahasa Banjar ini adalah nasihat yang diberikan kepada seseorang seharusnya juga berguna atau diamalkan bagi diri sendiri.
Orang Banjar dulu sering menggunakan nasihat ini untuk instrospeksi diri, terutama kepada generasi muda agar melakukan dulu suatu perkara sebelum berani menasihatkan kepada orang lain. Selain itu dalam ungkapan tersebut ada tersembunyi makna-makna dari segi kebahasaan tersebut agar dapat dipahami oleh pendengar. Bahasa Banjar merupakan salah satu bahasa daerah yang berada di Kalimantan digunakan sebagai alat komunikasi sesama masyarakat Banjar. Bila masyarakat Banjar berbicara sesama penuturnya maka akan terdengar sangat kontras bahwa bahasa Banjar memiliki dialek yang khas.
Dalam logat daerah terdapat ciri-ciri khas yang spesifik meliputi tekanan, turun-naiknya nada, panjang pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang berbeda-beda.  Maka dari itu pada penelitian ini yang akan digali adalah tentang  nilai-nilai moral ungkapan  dari bahasa Banjar yang dilakukan oleh orang Banjar dalam berkomunikasi.
Sedangkan penelitian ini khusus memaparkan tentang nilai-nilai moral yang ada dalam ungkapan bahasa Banjar, peneliti membuat tabulasi dan meneliti nilai-nilai moral yang ada pada ungkapan bahasa Banjar, mendata nilai moral dalam hubungan manusia dengan Tuhan.
Menyadari begitu besarnya pengaruh budaya dari luar, dan mulai memudarnya pengetahuan tentang peribahasa atau ungkapan Banjar, seiring dengan kemajuan zaman,  maka diupayakan penggalian dan pelestarian nilai-nilai budaya tradisional yang positip dan masih relevan dalam kehidupan moderen.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa termotivasi untuk mengangkat ungkapan bahasa Banjar sebagai bahan utama dalam penelitian ini. Di samping itu, penulis ingin ikut serta dalam memelihara dan mengembangkan sastra lisan daerah Banjar, serta mengingat mengingat penduduk masyarakat Banjar adalah mayoritas beragama Islam.
Kajian terhadap nilai-nilai moral yang terkandung dalam ungkapan bahasa Banjar ini menurut penulis  penting untuk dilakukan, karena dengan penelitian ini dapat menggali nilai-nilai budaya masyarakat Banjar dalam rangka memperkaya kebudayaan Nasional juga sebagai bahan penunjang dalam perencanaan atau kebijaksanaan yang menyangkut kebudayaan daerah Kalimantan Selatan. Disamping itu, penulis  ingin berpartisipasi melestarikan tradisi daerah yang berbentuk sastra lisan. 
Melalui penelitian ini, peneliti berusaha untuk membuat dokumentasi tentang ungkapan bahasa Banjar ini sehingga dapat dipergunakan oleh para generasi muda untuk belajar kelak, dan juga untuk para pecinta sastra lisan yang ingin mempelajari bentuk ungkapan tradisional masyarakat Banjar.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu:
Bagaimanakah gambaran nilai hubungan manusia dengan Tuhan yang terdapat dalam ungkapan bahasa  Banjar?
C.  Tujuan Penelitian
            Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan  penelitian ini ditujukan untuk   
mendeskripsikan nilai moral dalam hubungan manusia dengan Tuhan yang terdapat pada ungkapan bahasa Banjar.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi menyeluruh dan mendalam tentang nilai moral yang terkandung dalam ungkapan bahasa Banjar, sehingga hasilnya dapat difungsikan untuk keperluan teoritis dan praktis. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk: menambah kajian atas khasanah ungkapan  bahasa Banjar dan memperluas penerapan teori nilai moral ungkapan  bahasa Banjar  pada umumnya. Sedangkan secara praktis hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pengetahuan tentang nilai moral ungkapan bahasa Banjar dan memperkaya bahan pengajaran nilai moral  yang terkandung dalam ungkapan bahasa Banjar dalam konteks muatan lokal di sekolah-sekolah.

II.   LANDASAN TEORI
A. Pengertian Nilai
            Menurut Arifin (1991: 80), pengertian nilai sastra adalah sesuatu yang penting atau hal-hal yang berguna bagi manusia atau kemanusiaan yang menjadi sumber ukuran dalam sebuah karya sastra.
Koentjaraningrat (1984: 25) mengatakan bahwa nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat yang terdiri atas konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-halk yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu suatu system nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
Lawang (1986: 13) pengertian nilai lebih dikaitkan dengan perilaku sosial. Ia mengatakan bahwa nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, yang pantas, yang berharga, yang mempengaruhi perilaku sosial dari orang  yang memiliki nilai itu.
Nilai adalah konsep abstrak dalam diri manusia apa yang baik dan apa yang buruk (Faruk, 1994: 75). Nilai adalah sesuatu yang merupakan ukuran masyarakat untuk menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu hal yang dianggap baik dan benar. Nilai yang dijunjung tinggi ini dijadikan norma untuk menentukan ciri-ciri manusia yang ingin dicapai dalam praktik pendidikan. Nilai yang diperoleh secara normatif bersumber dari norma masyarakat,norma filsafat dan pandangan hidup, bahkan juga dari dari keyakinan keagamaan yang dianut seseorang (Munip, 2004: 34).

B. Pengertian dan Hakikat Moral
            Istilah moral dilihat dari segi etimologis berasal dari bahasa latin mores yang artinya adat kebiasaan atau cara hidup. Kata  lain  yang memiliki arti yang sama dengan moral adalah etika yang berasal dari bahasa Yunani ethos  (Mulyana, 2004: 17). Bila kita membandingkan dengan arti kata ‘etika’ maka secara etimologis, kata ’etika’ sama dengan kata ‘moral’ karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan, adat. Dengan kata lain, kalau arti kata ’moral’ sama dengan kata ‘etika’, maka rumusan arti kata ‘moral’ adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu ‘etika’ dari bahasa Yunani dan ‘moral’ dari bahasa Latin. Secara etimologis ‘etika’ adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum tentang perbuatan. Pada hakekatnya ‘moral’ adalah ukuran-ukuran yang telah diterima oleh suatu komunitas, sedangkan ‘etika’ lebih dikaitkan dengan prinsip-prinsip yang dikembangkan pada suatu profesi (Istanto, 2007: 4).
Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari. Nilai-nilai moral sangat penting untuk ditanamkan dalam kehidupan individu, bermasyarakat bahkan bernegara. 

C. Nilai Religi
Nilai religi adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan keberadaan manusia dengan keberadaan Tuhan sebagai sang pencipta, serta hubungan manusia dengan kepercayaannya mengenai kekuatan-kekuatan, kebiasaan-kebiasaan yang terkadang di luar akal manusia, namun dilakukan masyarakat sebagai suatu ritual atau tradisi dalam kebudayaan.
Gie 2004: 109 lebih suka menyebutnya nilai kemanusiaan yang bersifat transendental, karena perwujudannya berkaitan erat dengan eksistensi manusia (yang menyebabkannya dapat dibedakan dengan segenap makhluk hidup lainnya). Nilai kehidupan mewujudkan dirinya menjadi diaktualisasikan dalam bentuk-bentuk berikut ini:
1)      Pemujaan (worship) kepada Tuhan.
2)      Pengukuhan (affirmation) diri dalam kelompok masyarakat religius.
3)      Persaudaraan (fellowship) dalam pergaulan dengan anggota kelompok masyarakat religius.
4)      Kepastian (assurance) dalam keyakinan bahwa dibalik dunia yang fana ini ada Tuhan yang patut di sembah.
5)      Harapan (hope) dalam perasaan bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan.




III.      METODE PENELITIAN
            Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif ini digunakan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan peristiwa dan kejadian yang terjadi (Sudjana, 1987: 52). Metode deskriptif adalah metode yang berusaha menggambarkan sesuatu yang terjadi dengan apa adanya. Dengan kata lain, metode deskriptif ini bertujuan untuk memperoleh informasi-informasi keadaan dan melihat kaitannya dengan variabel-variabel yang telah dilakukan (Mardalis, 1990: 26). Dengan metode deskriptif ini peneliti berusaha mengumpulkan data sebanyak mungkin sesuai kemampuan kemudian menganalisis dan mendeskripsikannya dalam bentuk laporan. Menurut Sumadi Suryabrata, (2006: 71)
            Sumber data yang menjadi bahan galian peneliti adalah beberapa orang informan yang diyakini mengerti dan memahami tentang ungkapan bahasa Banjar. Selain para informan, peneliti juga menelaah beberapa buah buku yang relevan dengan ungkapan tradisional. Data kualitatif yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung. Penelitian kualitatif pada dasarnya merupakan suatu proses penyelidikan, yang mirip dengan pekerjaan detektif (Miles, 1992)
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini bertolak dari langkah-langkah yang dikemukakan Endaswara (2003: 30).
            Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Melakukan pembacaan ungkapan bahasa Banjar dalam rangka memperoleh penghayatan dan pemahaman terhadapnya;
  2. Melakukan penyajian data berupa tabulasi ungkapan bahasa Banjar yang sudah diseleksi dan dipadatkan yang terdiri dari atas klasifikasi atau kategorisasi data berdasarkan domain masalahnya yang terdiri atas kandungan nilai moral dalam hubungan manusia dengan Tuhan (Religi), nilai moral dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri (individu), nilai moral dalam hubungan manusia dengan lingkungan sosial.
  3. Melakukan penafsiran ulang atas ungkapan bahasa Banjar yang sudah diklasifikasi atau dikategorisasikan dalam rangka menemukan hubungan, kepaduan, dan kesatuan antar data, dan
  4. Jika hasil langkah ketiga di atas dipandang kurang memadai, diulang kembali langkah kesatu, kedua, dan ketiga di atas. Dengan kata lain, jika hasilnya belum memadai, terutama penghayatan dan pemahamannya belum mendalam dan memadai, wajib diulang kembali proses pengumpulan dan analisis data.

IV. HASIL PENELITIAN

 Nilai Moral Religi dalam Ungkapan bahasa Banjar
          Berdasarkan penelitian dari berbagai sumber peneliti menemukan nilai-nilai moral yang berhubungan dengan Tuhan di dalam ungkapan bahasa Banjar. Ungkapan bahasa Banjar yang mengandung nilai-nilai moral yang berhubungan dengan Tuhan adalah sebagai berikut:   n jar yang mengandung nilai relj
  1. Lurus hati
“ Mempunyai hati yang lurus”. Ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan kepada seseorang yang mempunyai hati yang lurus atau jujur sekali. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan  Banjar tersebut adalah agar kita dianjurkan untuk menjadi orang yang jujur, karena kejujuran adalah akhlak mulia. Orang yang seperti ini akan disenangi dalam pergaulan sehari-hari. Ungkapan bahasa Banjar ini adalah gambaran seseorang yang dalam kesehariannya mempunyai akhlak yang baik, berhati mulia dan dapat dipercaya. Di kalangan masyarakat Banjar, ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat.
  1. Bahati masigit
“Berhati mesjid”. Makna ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang baik hati dan rajin beribadah. Kata masigit (Mesjid) adalah tempat beribadah bagi umat yang beragama islam dan merupakan tempat yang suci. Orang yang mempunyai hati seperti mesjid berarti mempunyai hati yang suci. Peneliti berpendapat, sesuai dengan konotasi kalimatnya sebagai nasehat maka fungsi utama ungkapan ini adalah sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah agar setiap manusia berbuat baik pada sesama manusia dan selalu patuh kepada perintah Tuhan serta beribadah dengan  tulus dan ikhlas.
  1. Talanggar dauh
“Tertabrak beduk”. Makna ungkapan Banjar ini adalah ketika orang sholat magrib, kita masih melakukan sesuatu kegiatan atau masih membicarakan sesuatu. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah janganlah kita melupakan kewajiban terhadap Tuhan yaitu sholat, kalau tiba saatnya sholat segeralah laksanakan, tinggalkan sejenak pekerjaan yang sedang dilakukan.

  1. Diandak di bahu handak ka kapala
“Diletakkan di pundak mau ke kapala”. Makna ungkapan tersebut adalah   janganlah meminta lebih, merasa tidak puas dengan yang telah diberikan. Nilai moral yang disampaikan dalam ungkapan Banjar ini adalah nasehat yang berisi agar jangan menurutkan hawa nafsu, karena dengan hawa nafsu tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Kita hendaknya mementingkan hal-hal lain yang lebih nyata, bukan hal-hal yang belum pasti, atau memaksakan kehendak kita untuk mencapai suatu keinginan.
  1. Halus-halus iwak,ganal-ganal biawak
“Kecil-kecil ikan, besar-besar kadal”. Makna ungkapan Banjar ini adalah manusia harus bersyukur diberi rezeki walaupun rezeki tersebut sedikit. Terimalah rezeki walaupun sedikit tapi halal, lebih baik pada yang banyak tapi didapat melalui cara haram. Nilai moral yang yang terkandung dalam ungkapan Banjar ini adalah nasehat yang berisi agar kita bersyukur kepada Tuhan atas segala rezeki yang sudah diberikan kepada kita, walaupun rezeki itu kecil, jangan mengambil jalan pintas dengan mencari rezeki dengan cara yang tidak halal, karena hal tersebut sangat dibenci oleh Allah. Peneliti berpendapat, sesuai dengan konotasi kalimatnya sebagai nasehat maka fungsi utama ungkapan ini adalah sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan.
  1. Hulat dalam batu gin ada razakinya
“Ulat dalam batupun ada rezekinya”. Makna ungkapan tersebut adalah setiap makhluk yang ada di dunia sudah ditentukan rezekinya”. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan tersebut adalah nasehat yang berisi jangan mudah putus asa karena Tuhan Maha Adil dan Maha Kuasa atas segalanya. Setiap makhluk dimuka bumi ini sudah ditentukan rezekinya, asalkan mau berusaha, berdo’a dan bekerja. Di kalangan masyarakat Banjar, umgkapan ini difungsikan sebagai nasehat yang diucapkan dengan nada mengingatkan bahasa Banjar mamadahi).  Dalam hal ini kita dinasehati agar selalu yakin bahwa Allah SWT selaku  yang Maha Pemberi Rezeki selalu memberi rezeki kepada seluruh makhluk ciptaaNya. Sesuai dengan konotasi kalimatnya ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku, dan pengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan paparan di atas peneliti berpendapat, makna konotatif hulat dalam batu gin ada razakinya merujuk kepada sesuatu yang tidak perlu di kuatirkan, karena segala sesuatunya sudah ada yang mengatur (Tuhan).
  1. Lambat mambalik talapak tangan
“Lama membalik telapak tangan”. Makna ungkapan Banjar ini adalah sesuatu yang bila dikehendaki oleh Tuhan maka dengan mudah dapat terjadi tanpa  bisa diduga atau diusahakan. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah nasehat yang berisi pengajaran, kita harus percaya dan yakin bahwa apapun yang dikehendaki oleh Tuhan, maka akan dengan mudah dapat terjadi tanpa disangka-sangka.

  1. Balang kambingan
“Belang kambingan”. Makna ungkapan bahasa Banjar tersebut adalah mencerminkan perilaku seseorang yang tidak teratur kegiatan hidupnya terutama dalam hal beribadah kepada Allah (sholat). Orang seperti ini, cenderung bersifat malas, artinya sholat yang ia kerjakan itu tidak rutin. Dia hanya akan mengerjakan sholat, apabila ada keinginan atau pada waktu-waktu tertentu saja. Pesan moral yang dapat diambil pada ungkapan Banjar tersebut adalah hendaknya kita selaku muslim dapat mengerjakan sholat setiap waktu, dan dikerjakan dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah, SWT serta tidak merasa terbebani oleh kewajiban dari Allah, SWT.
  1. Alim buak
“Alim seperti burung hantu”. Makna ungkapan Banjar ini adalah orang yang penampilannya seperti ulama, padahal dia bukan ulama hanya penampilannya saja.  Buak adalah nama burung yang ada di daerah Banjar pahuluan. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah janganlah berpura-pura alim padahal tidak, sesuaikan dengan kepandaiaan atau ilmu yang kita miliki saja. Allah sangat membenci orang yang suka perpura-pura.
  1. Mangaji mulai di alif
“Mengaji mulai di alif”. Makna ungkapan Banjar ini adalah menuntut ilmu itu dari dasar. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah kalau kita mempelajari sesuatu itu hendaknya dari paling bawah atau paling dasar, jadi kita benar-benar mengetahui atau menguasai dari dasarnya. Dalam mempelajari sesuatu itu perlu sebuah proses, tahap demi tahap dari jenjang yang rendah ke jenjang yang lebih tinggi. Agar hasil yang dicita-citakan akan tercapai dengan baik dan memuaskan.  Di kalangan masyarakat Banjar, ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan beragama.
  1. Dasar rajaki halang kada ta ka musang
“Memang rezeki elang tidak ke musang”. Makna ungkapan Banjar ini adalah kalau memang sudah rezeki kita atau rezeki yang ditentukan Allah tidak akan beralih kepada orang lain. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat supaya kita jangan merasa kecewa sangat kalau tidak mendapat apa yang dihajatkan tambahan pula kalau apa yang diharapkan itu diberikan pula pada orang lain. Mungkin bukan rezeki kita pada kali ini, segalanya adalah ketentuan ilahi.
  1. Allahu wahdah, Inya mambari kada bapadah, Inya maambil kada bapadah
“Allah Maha Esa, Dia memberi nikmat kepada hambaNya tanpa batas, Dia mengambil kembali tanpa memberi tahu”. Makna ungkapan Banjar ini adalah bahwa Allah memberikan rezeki tanpa terlebih dahulu memberi tahu dan tak terbatas, dan Dia (Allah) mengambil rezeki tersebut juga tanpa memberi tahu. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat untuk mengingatkan manusia bahwa Allah yang Maha Esa berbuat sekehendakNya. Oleh karena itu kita sabagai hambaNya harus bersyukur dan selalu ingat kapadaNya. Bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita, ingat bahwa pada suatu saat yang tidak diketahui, nyawa kita akan diambil dan kembali kehadiratNya untuk mempertanggung jawabkan amal perbutan kita. Peneliti berpendapat, ungkapan diatas berisi nasehat agar manusia selalu meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Allah Maha Pemberi Rezeki, bila Dia menghendakinya manusia dilimpahkanNya dalam jumlah yang tak terbatas (kada bawadah). Tapi limpahan rezeki tersebut bisa saja ditarikNya secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda sama sekali (kada bapadah). Makna konotatif ungkapan ini secara keseluruhan merujuk pada pengakuan bahwa Allah SWT adalah Zat Yang Maha Kuasa. Dia (Allah) juga berhak atas kehendakNya terhadap setiap manusia yang menjadi makhlukNya. 
  1. Gala-gala iman.
“Tameng mempertahankan keimanan”. Makna ungkapan Banjar ini adalah anjuran dari segi agama dari para orang tua kepada keturunannya agar pandai pandai menjaga imannya.sebab tanpa benteng keimanan yang baik maka hidup akan rugi dunia akhirat agar kita selalu memperkuat keimanan, selalu membentengi diri dari perbuatan jahat dan selalu menjalankan perintahNya menjauhi larangannya, apapun yang terjadi dalam keadaan apapun kita selalu ingat padaNya. Nilai moral yang terkandung di dalamnya adalah nasihat agar kita selalu membentengi diri dengan keimanan meyakini dengan hati dan melakukan dengan niat. Oleh sebab itulah orang-orang Banjar pada umumnya membekali anak-anak mereka selain bidang pengetahuan umum juga di bidang agama dapat di laksanakan di lingkungan mereka tinggal seperti ikut mondok di pesantren atau ikut belajar mengaji pada ulama setempat. Dengan memiliki keimanan yang kokoh maka dalam menjalani kehidupan di dunia ini akan terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk dan akan melapangkan jalan menuju keselamatan di akherat kelak.

  1. Dijamak Jibril
“Disentuh malaikat Jibril”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah mendapatkan keberuntungan yang tidak disangka-sangka. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah segala sesuatu jika kita jalani dengan sabar dan selalu berdo’a kapada Allah SWT maka kita akan diberikan berkah dan keberuntungan yang tidak terduga. Jibril adalah Malaikat, ungkapan ini mengandung nilai religi karena ungkapan ini memberikan nasehat kepada orang yang yang beriman agar selalu berdo’a dan berusaha dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Dan juga jangan lupa bersukur kalau di berikan rezeki yang berlimpah dan tak disangka-sangka oleh Tuhan. Jangan sampai lupa diri dan melupakan yang memberikan rezeki tersebut. Bentuk nyata dari rasa syukur itu adalah dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah dan mau membagi-bagikan rezeki tersebut kepada orang yang tidak mampu dan sangat membutuhkan.
  1. Mambalakangi agama
“ Membelakangi agama atau meninggalkan agama”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang melupakan agama atau meninggalkan ajaran agama yang dianutnya. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat orang tua kepada kaum muda untuk tidak melupakan ajaran dasar agama islam. Di dalam kehidupan sekarang yang dipenuhi oleh segala pengaruh informasi dan globalisasi yang menyelimuti sendi-sendi kehidupan masyarakat yang dapat mempengaruhi pola hidup masyarakat luas. Oleh karena itu, kita sebagai anggota masyarakat jangan sampai terpengaruh oleh hal-hal yang bertolak belakang dengan ajaran agama. Kita hendaknya ingat akan petuah lama “janganlah mambalakangi agama”, sama artinya meninggalkan Tuhan dan ajaran-ajaran yang terkandung dalam agama mayoritas masyarakat Banjar pada umumnya dan anggota keluarga kita pada khususnya.
  1. Lancar kaji
“Lancar dalam mengaji”. Makna ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang pandai dalam pelajaran baik itu pelajaran tentang agama maupun tentang pengetahuan umum. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat kepada kita agar dalam mempelajari sesuatu harus dengan sepenuh hati dan rajin mengulangi dan mempelajarinya lagi agar lancar dan menjadi orang yang pandai, karena ada ungkapan yang berbunyi “lancar kaji karena diulang”. Apabila seseorang rajin mengulang baik itu mengaji atau hal yang lain maka pasti lancar dan akan menjadi lebih mudah. Misalnya seorang pelajar bila pulang dari sekolah rajin mempelajari kembali jika sudah di rumah maka akan terlihat hasilnya bila menghadapi ulangan akan terasa mudah dan bisa menjawab soal-soal yang di ujikan guru.
  1. Lurus iman
“ Lurus iman”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang mempunyai keimanan sesuai dengan kitab suci. Dengan penggunaan kata “lurus” yang sama artinya tidak bengkok, tidak berkelok-kelok, tidak menyimpang. Kata “lurus” ini dimaksudkan dalam hal keimanan seseorang yang benar-benar mengikuti kitab suci dan ajaran agama yang benar. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat agar kita mempunyai iman sesuai dengan kitab suci, jangan melanggar ajaran-ajaran kitab suci atau yang menyalahi daripada ajaran tersebut. Di kalangan masyarakat Banjar, ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat.
  1. Mawiwir anggit urang
“Mengambil punya orang”. Makna ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang mengambil milik orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya. Dalam hukum Islam, seseorang yang mengambil kepunyaan orang lain yang bukan hal miliknya disebut zolim. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat agar sifat yang merugikan orang lain itu, perlu kita tinggalkan guna kelangsungan hidup bermasyarakat dan beragama. Pernyataan di atas, kiranya sangat tepat dengan ungkapan “Mawiwir Anggit Urang”. Seorang hamba Tuhan, tidak akan menikmati indahnya surga, selama dalam hatinya masih ada tersisa hak orang lain yang ambil tanpa sepengetahuan dan tanpa seizin dari pemiliknya. Di kalangan masyarakat Banjar, ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat. Adapun ajaran agama yang dapat kita teladani dari ungkapan itu adalah senantiasa bersikap adil terhadap sesama manusia, tidak mengambil atau mengaku kepunyaan orang yang bukan milik kita, dan laksanakanlah Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

  1. Razaki halal
“Rezeki halal”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang mencari nafkah dengan cara yang jujur dan halal, tidak melanggar norma-norma agama. Rezeki yang tidak halal itu diperoleh dengan cara yang tidak benar misalnya mencuri, menipu, dan lain-lain. Rezeki yang diperoleh dengan cara yang halal akan mendapat limpahan berkah dari Allah SWT. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar ini adalah berisi nasehat kepada kita agar memperoleh rezeki hendaknya dengan cara yang halal, tidak merugikan orang lain.
  1. Kupiah haja putih
“Peci saja yang putih”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang kelakuannnya tidak sesuai dengan peci putihnya (Haji). Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat untuk seseorang yang sudah menyandang gelar ataupun jabatan hendaknya disesuaikan sifat dan perbuatan sebagaimana mestinya. Di kalangan masyarakat Banjar, ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat. Bagi yang sudah bergelar Haji, sudah sepatutnya kelakuan lebih baik daripada orang yang belum Haji dan dapat memberi contoh yang baik-baik kepada orang lain.
  1. Lingah hati
“Lengah hati”. Makna ungkapan Banjar ini adalah sindiran pada sesorang yang sedang lupa pada Tuhan. Orang yang lupa pada Allah SWT cenderung melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Sebagai contoh melupakan sholat, minum-minuman keras, berbohong dan lain-lain. Semua yang dikerjakannya hanya membawa mudarat atau celaka baik bagi dirinya sendiri maupun untuk orang banyak. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat agar kita jangan sampai “lengah hati” atau melupakan Tuhan yang menciptakan kita dan alam semesta ini.  Maknanya adalah perbuatan yang disertai kewaspadaan akan menghasilkan kesejahteraan atau keselamatan, sedangkan kelengahan akan mengakibatkan kecelakaan atau kerugian. Ungkapan ini mengandung pendidikan, memperingatkan kepada semua orang agar dalam kehidupan senantiasa berhati-hati, dan tidak bersikap lengah yang akan menimbulkan kerugian.
  1. Angkat dagu
“Angkat dagu”. Makna ungkapan Banjar ini adalah sindiran pada seseorang yang sombong atau orang yang tinggi hati. Ungkapan ini merupakan gambaran seseorang yang mempunyai sifat atau berkarakter angkuh, sombong dan takabur. Orang yang mempunyai sifat seperti ini tidak akan disenangi orang lain sebab biasanya merasa dirinya lebih baik dan suka meremehkan orang lain, penyebab yang memicu ke arah ini sangat rentan sebab hampir semua faktor keberhasilan dan kesuksesan seseorang dalam segala hal dapat mengarah ke perilaku tersebut. Ia beranggapan bahwa semua keberhasilan itu adalah atas jerih payahnya sendiri dan tidak ada andil dari orang lain. Ia menganggap orang lain tidak akan mampu seperti dia. Orang yang sombong mata hatinya akan tertutup akan ada kekuatan, kebesaran dan kekuasaan yang lebih tinggi darinya yaitu Sang Pencipta yang mengatur kehidupan manusia di dunia ini. Kalau sudah tidak mengakui kekuasaan Sang Pencipta apalagi menghadapi orang lain yang dianggapnya lebih rendah dari dirinya.  Di kalangan masyarakat Banjar, ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar ini adalah berisi nasehat agar kita hendaknya janganlah suka menyombongkan diri karena sesungguhnya Allah sangat membenci pada orang yang sombong.
  1. Bahati malaikat
“Berhati malaikat”. Makna ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang berperilaku baik sekali. Di kalangan masyarakat Banjar, ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan beragama. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar ini adalah berisi nasehat agar kita memang seharusnya berperilaku baik, berbudi luhur dan berhati mulia.
  1. Bisa dua kulit
“Bisa dua kulit”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang berpura-pura atau tidak jujur. Dalan ajaran Islam, apabila seseorang mempunyai sifat yang tidak jujur maka ia dinamakan munafik. Sifat munafik tersebut, sering dilakukan oleh orang yang tidak senang atau iri dengan keberhasilan orang lain. Di depan orang tersebut, dia memuji habis-habisan dan seakan-akan dia turut merasakan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang lain. Sedangkan ketika dia berbicara di belakang dengan orang lain, justru menghina dan mencela orang tersebut, serta berusaha agar orang lain ikut membencinya. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat supaya kita senantiasa berlaku jujur dan tidak dengki dengan keberhasilan orang lain. Dikala kita berbicara baik di depan ataupun di belakang, semuanya harus sama dan berdasarkan kenyataan yang ada.
  1. Kada tahu wan alip bungkuk
“Tidak tahu sama alip bungkuk”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang tidak pandai baca tulis Al-Qur’an. Di kalangan masyarakat Banjar, ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah agar kita hendaknya mau belajar baca tulis Al-Qur’an untuk bekal kita di akherat kelak. Menuntut ilmu tidak mengenal usia, baik yang muda maupun yang sudah tua tidak ada batasan yang penting ada niat dan kemauan.
  1. Bajual pandir
“Berjualan pembicaraan”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang suka banyak bicara dan banyak bohongnya. Biasanya kalau orang terlalu banyak bicara pasti banyak bohongnya atau membual belaka. Orang yang suka berbohong orang lain tidak mempercayainya lagi. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat agar kita berbicara seperlunya saja dan jangan suka berkata dusta. Lebih baik diam daripada bicara yang tidak bermanfaat. Berbohong adalah perbuatan yang tidak baik dan melanggar ajaran agama serta dimurkai Tuhan.
  1. Mambasuh siku
“Mencuci siku”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada seseorang yang sedang mengambil air wudhu. Di kalangan masyarakat Banjar, ungkapan ini difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku dan pengatur aspek-aspek kehidupan beragama. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar tersebut adalah berisi nasehat agar kita segeralah berwudhu jika sampai waktunya untuk mengerjakan sholat. Janganlah kita melalaikan perintah Allah atau melupakan hanya karena suatu pekerjaan. 
  1. Bamuha dua
“Punya muka dua”. Makna dari ungkapan Banjar ini adalah dikiaskan pada sesorang yang tidak jujur. Di depan orang dia bersikap pura-pura baik dan memuji tetapi dibelakang dia mencela. Apa yang dia katakan di hadapan orangnya bertolak belakang dengan  apa yang ada di hatinya. Orang yang seperti ini sangat dibenci Tuhan. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar ini adalah berisi nasehat agar kita selalu berkata jujur dan berbuat baik terhadap sesama manusia.
  1. Baluluas luang burit
“ Hanya  membuat lubang pantat menjadi semakin besar saja”. Ungkapan ini dikiaskan kepada seseorang yang selalu mengerjakan sholat lima waktu, tetapi dalam kehidupan sehari-hari yang bersangkutan selalu mencari-cari kesalahan orang lain dan kemudian menyebarkannya kepada orang lain. Ungkapan ini merupakan kritik atau olok-olok yang diucapkan dengan nada menyalahkan bahasa Banjar maniwas)  lawan bicara. Orang yang menjadi sasaran kritiknya diolok-olok sebagai orang yang rajin sholat tetapi tidak memperoleh pahala, yang diperoleh justru lubang pantatnya yang semakin lebar karena terlalu lama menungging ketika sujud. Berdasarkan paparan di atas, makna konotatif ungkapan bahasa banjar ini merujuk kapada seseorang yang di satu sisi rajin mengerjakan sholat lima waktu, tetapi di sisi lain juga bergunjing. Sholat lima waktu yang dikerjakannya tidak mampu mengubah perilakunya yang buruk. Gaya bahasa seperti ini disebut sarkasme, yakni sejenis gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakitkan hati (Tarigan 1985: 92). Nilai yang dirujuk secara tidak langsung dalam ungkapan ini nilai kebaikan (goodnes), yakni pengendalian diri. Orang disiplin (terkendali) adalah orang yang saleh secara ritual dan saleh pula secara sosial. Orang ini selalu mengerjakan sholat lima waktu dan karena dia menjalankan sholat lima waktu itu membentuk kepribadiannya menjadi orang yang saleh (mampu mencegah drinya untuk tidak berbuat mungkar). Nilai kebaikan yang ditanamkan secara tidak langsung (dekonstruksi) adalah kedisiplinan sebagaimana yang ditunjukan pada gambaran orang disiplin (terkendali) di atas. Lawannya, orang yang tidak disiplin (tidak terkendali), yakni orang yang selalu mengerjakan sholat lima waktu tetapi ironisnya yang bersangkutan suka sekali mempergunjingkan orang lain. Orang seperti ini dikritik atau diolok-olok sebagai orang yang sholatnya merugi, dia tidak memperoleh pahala dari sholat yang dikerjakannya, yang diperoleh hanya lubang pantat yang semakin luas. Berdasarkan konotasi kalimatya, ungkapan ini mencerminkan sikap mental negatif.
  1. Kada bacampur minyak lawan banyu
“Tidak bercampur minyak dengan air”. Makna ungkapan  Banjar tersebut adalah keteguhan iman seseorang yang kuat tidak akan mudah terpengaruh. Nilai moral yang terkandung dalam ungkapan Banjar ini adalah nasehat agar dalam kehidupan sehari-hari kita hendaknya jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma agama, moral dan etika.  Kita harus  teguh mempertahankan pendirian dan keyakinan yang sudah ada dan tidak menyimpang dari ketentuan norma-norma agama, moral dan etika. Ungkapan ini dikiaskan pada seseorang yang kuat imannya dan tidak akan terpengaruh oleh godaan untuk melakukan suatu perbuatan yang maksiat. Sesorang yang telah kuat imannya tidak akan terpengaruh sedikitpun meski ia berada di dalam lingkungan orang-orang yang tidak beriman. Fakta menunjukkan minyak tidak bercampur dengan air, meskipun diletakkan dalam satu tempat yang sama misalnya di dalam sebuah  botol. Ungkapan ini menegaskan bahwa tidak sama antara orang yang baik dengan orang yang jahat, sekalipun mereka berkumpul dalam suatu tempat atau lingkungan yang sama. Berbeda dengan dengan orang yang tidak kuat imannnya, akan mudah terpengaruh jika bergaul dengan orang jahat. Menurut pendapat peneliti, ungkapan ini merupakan penegasan bahwa orang yang beriman tidak akan terpengaruh dengan godaan yang dilancarkan oleh para ahli maksiat. Bila yang bersangkutan sampai tergoda, maka ia tidak berhak lagi disebut orang beriman karena itu berarti ia telah kalah (imannya tidak kuat lagi). Berdasarkan paparan di atas, peneliti berpendapat, makna konotataif minyak merujuk kepada seseorang yang bertabiat buruk, sedangkan banyu merujuk kepada seseorang yang bertabiat baik.  Gaya bahasa yang terdapat dalam ungkapan ini adalah metafora sebagai mana dirumuskan oleh Tarigan (1985: 15).
  1. Kada tahu burit kapala
“Tidak tahu di mana pantat di mana kepala”. Ungkapan ini merupakan kiasan seseorang yang terlalu sibuk bekerja sehinggga tidak punya waktu lagi untuk beribadah atau bergaul dengan tetangga. Kita memang dianjurkan untuk rajin bekerja atau mencari nafkah, tetapi juga harus bisa membagi waktu. Bekerja harus pula disertai dengan do’a dan mengingat kepada Allah SWT yang telah memberikan segalanya. Sebagai orang yang beriman kita harus yakin akan ada kehidupan yang abadi kelak, dan kita harus mempunyai bekal yang kita kerjakan saat hidup di dunia. Makna ungkapan di atas berisi anjuran atu nasehat agar kita bekerja jangan Cuma untuk dunia saja tapi juga untuk kehidupan kita kelak di akherat. Maksudnya kita jangan sampai lupa diri (gila kerja) tanpa ingat berdo’a dan bersyukar kepada yang Kuasa. Ungkapan ini bertujuan mengingatkan manusia akan kefanaan segala yang ada di dunia. Bahwa manusia jangan hanya mengejar keduniawian karena harta, pangkat, dan segala kebendaan tidak akan abadi. Semua dapat diperoleh dengan mudah, tetapi juga dapat musnah dengan mudah pula. Manusia hendaknya juga memikirkan segala yang dibutuhkan di alam yang abadi nanti, akhirat. Manusia harus senantiasa berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan karena kepada-Nya lah nanti kita kembali.


       III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan  bahwa ungkapan dalam bahasa Banjar yang merupakan salah satu tradisi lisan yang telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi ternyata masih ada ditengah kehidupan masyarakat Banjar. Nilai moral, pesan dan pelajaran yang terkandung dalam ungkapan bahasa Banjar tidak selalu diungkapkan secara nyata dan terang-terangan. Ada nasehat moral religi atau nilai-nilai hubungan manusia dengamn Tuhan yang sangat berharga yang disampaikan secara simbolis yang  disampaikan dalam bentuk impilkatur. Dengan demikian, jika ingin memahami makna religi ungkapan bahasa Banjar maka tidak cukup kalau hanya memahami kata-kata atau kalimat yang terucap semata, karena jauh dibalik itu ada tersembunyi maksud sesunggunhnya.

3.2 Saran-saran  
            Penulis menyadari bahwa hasil penelitian tentang ungkapan bahasa Banjar yang penulis laporkan ini kurang sempurna baik dari segi inventarisasi maupun pengungkapan makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Mengingat berbagai keterbatasan yang ada pada diri penulis, sangat mungkin ada kalimat-kalimat ungkapan yang belum penulis dokumentasikan dan belum penulis ungkapkan maknanya. Atas dasar kesadaran inilah dalam kesempatan ini penulis memberikan saran-saran dan juga harapan sebagai berikut:
Pertama, di dalam kesempatan yang akan datang sebaiknya dilakukan penelitian-penelitian lanjutan sekitar ungkapan bahasa Banjar tersebut sehingga selain dapat terinventarisasi secara lengkap, dan dapat dipahami makna dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Selain itu juga untuk memperkaya dan melestarikan sastra lisan daerah Banjar yang berbentuk ungkapan. Dengan demikian ungkapan Banjar dapat dijadikan sebagai pedoman hidup untuk generasi  kini dan yang datang.
            Kedua, mengingat bahwa banyak ungkapan Banjar yang mengandung pesan moral dan pelajaran-pelajaran yang berharga, maka perlu adanya apresiasi yang positif dan proporsional dari berbagai pihak.





Mengenai Saya

Foto Saya
Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia